|
Bukti eksternal
kebenaran dan superioritas Al-Qur’an ada empat macam. Pertama, adalah yang
berkaitan dengan hal-hal yang perlu diperbaharui; kedua, yang berkaitan
dengan hal-hal yang harus disempurnakan; ketiga, yang berkaitan dengan
hal-hal alamiah dan keempat, yang berkaitan dengan hal-hal yang tersembunyi.
Adapun bukti internal kebenaran dan keunggulan Al-Qur’an berkaitan dengan
hal-hal alamiah.
Hal-hal yang harus
diperbaharui adalah aqidah-aqidah salah yang dianut manusia sebagai pengganti
aqidah haqiqi yang telah melenceng dengan berjalannya waktu dimana
penyelewengan itu telah meluas sedemikian rupa sehingga Tuhan menganggap
perlu memperbaharuinya.
Hal-hal yang perlu
disempurnakan mencakup ajaran-ajaran yang dianggap berkekurangan dalam semua
Kitab-kitab yang diwahyukan terdahulu dimana kekurangan dan
ketidak-lengkapannya itu menjadi jelas jika dibandingkan dengan ajaran yang
sempurna sehingga memerlukan adanya suatu Kitab baru yang diwahyukan untuk
memperbaikinya.
Hal-hal yang
bersifat alamiah terdiri lagi dari dua macam. Pertama, yang bersifat
eksternal yaitu segala hal yang diciptakan Allah s.w.t. tanpa adanya campur
tangan manusia dimana Dia telah memboboti setiap zarah benda dimaksud dengan
keagungan, keunikan dan kebesaran sistem penciptaan yang menakjubkan pikiran.
Kedua, yang bersifat internal seperti keindahan bentuk komposisi serta isi
dari Kitab yang diwahyukan yang tidak mungkin dipadani oleh kemampuan akal
manusia. Karena sifat tanpa tanding dan keunikan tersebut maka manusia akan
merasa digiring kepada Wujud yang Maha Esa dan Maha Kuasa tersebut sehingga
Kitab itu menjadi cermin yang menunjukkan refleksi Tuhan.
Adapun yang dimaksud
dengan hal-hal tersembunyi adalah segala hal yang lahir keluar dari lidah
seorang manusia dimana diyakini bahwa sebenarnya pernyataan seperti itu
berada di luar kemampuan dirinya. Kalau kita membandingkan
perkataan-perkataan itu dengan keadaan manusia bersangkutan, sebenarnya jelas
bahwa hal itu di luar kemampuan yang bersangkutan dan tidak mungkin dapat
diperoleh melalui perenungan atau pengamatan sendiri atau pun berasal dari
orang lain yang dikenalnya. Pada orang-orang lain hal demikian mungkin tidak
menjadi suatu hal yang mustahil karena misalnya memang telah memiliki
pengetahuan dan dasar pendidikan yang cukup. Dengan demikian hal seperti itu
menjadi bersifat relatif yaitu pada seseorang tertentu hal demikian dianggap
sebagai suatu yang tersembunyi tetapi pada orang lain tidaklah
demikian.
(Barahin Ahmadiyah,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 143-145, London, 1984).
|
Aku pernah muda dan
sekarang ini sudah tua, namun semua orang menyaksikan bahwa aku tidak pernah
mempedulikan masalah-masalah duniawi dan hanya tertarik kepada masalah
keimanan saja. Aku telah menemukan firman amat suci dan penuh dengan marifat
keruhanian yang diberi nama Al-Qur’an. Kitab ini tidak mempertuhan seorang
manusia dan tidak melecehkan Tuhan dengan cara mengecualikan ruh dan raga
dari hasil ciptaan-Nya.
Kitab Suci Al-Qur’an
membawa berkat dalam hati manusia yang menjadikannya menganut suatu agama
yang benar serta menjadikan dirinya sebagai pewaris dari rahmat Ilahi.
Setelah berhasil
menemukan Nur demikian, bagaimana mungkin kami kembali kepada kegelapan dan
setelah memperoleh mata bagaimana mungkin kami menjadi buta?
(Sanatan Dharm,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1903; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol.
19, hal. 474, London, 1984).
* * *
Jelas sudah kalau
Al-Qur’an itu telah menyempurnakan agama Islam sebagai¬mana dinyatakan dalam
ayat:
“Hari ini telah
Kusempurnakan agamamu bagi manfaatmu dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu
dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama”. (S.5 Al-Maidah:4).
Karena itu setelah
Kitab Suci Al-Qur’an tidak diperlukan diturunkannya kitab lain, mengingat
semua yang dibutuhkan manusia sudah dirangkum di dalamnya. Sekarang ini hanya
pintu wahyu yang masih terbuka namun tidak secara otomatis demikian. Firman
haqiqi dan suci yang berisikan pertolongan Allah s.w.t. serta berbagai
hal-hal tersembunyi di dalamnya hanya bisa diperoleh dengan cara menyucikan
batin melalui pengamalan Al-Qur’an dan mematuhi Hadzrat Rasulullah s.a.w.
(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam
Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 80, London, 1984).
* * *
Apa yang termaktub
di dalam Al-Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada di atas
semua wahyu-wahyu lainnya. Tidak dimungkinkan adanya wahyu lain yang
diturunkan yang akan bertentangan karena hal seperti itu sama saja dengan
memansukhkan Ayat-ayat Suci. (Majmua Ishtiharat, vol. 2, hal. 84).
* * *
Mukjizat nyata
Al-Qur’an yang bisa diperhatikan setiap orang dan yang akan memukau orang
jika kita kemukakan, terlepas apakah yang bersangkutan bangsa India, Parsi,
Eropa atau Amerika, adalah tidak terbatasnya khazanah wawasan, kebenaran dan
kebijakan yang dapat diungkapkan di setiap zaman menurut kebutuhan laiknya
prajurit bersenjata yang setiap saat mampu menangkis pandangan keliru. Kalau
Al-Qur’an bersifat terbatas dalam wawasan dan kebenaran yang dikandungnya
maka tidak mungkin akan disebut sebagai mukjizat yang sempurna. Tidak hanya
keindahan komposisinya yang dikagumi baik mereka yang buta huruf Arab atau
pun yang melek huruf, tetapi mukjizat Al-Qur’an yang nyata adalah tidak
terbatasnya wawasan dan mutiara-mutiara hikmah yang dikandungnya. Seseorang
yang tidak mengakui mukjizat Al-Qur’an, sesungguhnya kalis dari pengetahuan
mengenainya. Mereka yang tidak meyakini mukjizat tersebut, tidak akan bisa
menghargai Al-Qur’an sebagai¬mana layaknya ia dihargai, dan tidak mengenal
Tuhan sebagaimana mestinya Dia dikenali, serta tidak menghormati Hadzrat
Rasulullah s.a.w. sebagaimana laiknya beliau dihormati.
Perhatikanlah bahwa
mukjizat dari wawasan serta kebenaran tak terbatas yang dikandung Al-Qur’an
itu telah menghasilkan kemaslahatan jauh lebih banyak di setiap zaman
dibanding jika dengan pedang. Semua bentuk keraguan yang muncul di setiap
zaman sejalan dengan situasinya serta semua pengakuan dari wawasan yang
dianggap lebih baik, nyatanya secara total disangkal Al-Qur’an. Tidak ada seorang
pun penganut aliran Brahmo, Buddha, Arya atau pun filosof lainnya yang mampu
mengemukakan kebenaran Ilahi lainnya yang belum ada terkandung di dalam
Al-Qur’an. Keajaiban-keajaiban Kitab Suci Al-Qur’an tidak akan pernah
berakhir. Sebagaimana sifat-sifat mulia hukum alam tidak pernah berakhir di
masa-masa lalu karena selalu tampak baru dan segar, begitu pula halnya dengan
Kitab Suci ini sehingga firman Tuhan dan kinerja-Nya dapat dibuktikan selalu
berjalan selaras.
Sebagaimana telah
aku kemukakan sebelumnya, sering sekali keajaiban Kitab Suci Al-Qur’an
dibukakan kepadaku dan banyak di antaranya yang tidak akan ditemukan dalam
tafsir-tafsir lainnya. Sebagai contoh, telah diwahyukan kepadaku bahwa jangka
waktu yang dilewati di antara masa turunnya Nabi Adam a.s. sampai dengan masa
Hadzrat Rasulullah s.a.w. sesungguhnya ada dikandung dalam Surah Al-Ashr
dalam nilai huruf-hurufnya yang mencapai angka 4.740 tahun kamariah (berdasar
perhitungan bulan). Kebenaran seperti ini tidak akan ditemui dalam
kitab-kitab tafsir lainnya.
Begitu pula Allah
yang Maha Agung telah membukakan kepadaku tafsir ayat:
“Sesungguhnya Kami
menurunkannya pada Malam Takdir”. (S.97 Al-Qadr:2)
bahwa artinya tidak
hanya berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an tetapi juga pengertian lain seperti
yang telah aku kemukakan dalam buklet Fateh Islam. Kitab tafsir manakah yang
ada mengandung kebenaran-kebenaran seperti ini?
Patut diperhatikan
bahwa berbagai pergandaan arti di dalam Al-Qur’an tidaklah berarti ada
kontradiksi di dalamnya, tidak juga menggambarkan adanya cacat pada
ajarannya. Bahkan sesungguhnya Nur keakbaran Al-Qur’an malah menjadi
bertambah cemerlang karena adanya tambahan tafsir Nur-nur yang baru. Dengan
berjalannya waktu yang mengembangkan lebih lanjut batas pemikiran manusia
maka perlu kiranya bagi Al-Qur’an untuk selalu memani¬festasikan dirinya
dalam bentuk-bentuk mutakhir serta membukakan pengetahuan-pengetahuan baru
dan menyangkal khayalan dan bid’ah yang mungkin muncul. Karena itu jika Kitab
yang dianggap sebagai Khatamal Kutub tidak bisa menanggulangi keadaan-keadaan
baru maka pernyataan tersebut tidak akan ada artinya. Jika nyatanya Kitab ini
memang merangkum keseluruhan kebutuhan manusia di setiap zaman maka kita
harus mengakui kalau Kitab ini telah merangkum jumlah wawasan yang tak ada
batasnya.
Patut diketahui
bahwa perlakuan Allah s.w.t. terhadap para penerima wahyu yang sempurna ialah
Dia akan selalu mengungkapkan rahasia-rahasia tersembunyi dari Al-Qur’an
kepada yang bersangkutan. Sering terjadi bahwa ada suatu ayat Al-Qur’an yang
diwahyukan kepada seorang penerima wahyu dimana tujuannya agak berbeda dengan
pengertian awal saat diturunkannya wahyu tersebut. Maulvi Abdullah Ghaznavi
suatu kali menulis dalam sebuah surat bahwa yang bersangkutan pernah menerima
sebuah wahyu yang berbunyi:
“Kami berkata: “Hai
api, jadilah kamu sarana untuk mendatangkan dingin dan keselamatan “.”2
namun ia tidak
memahami apa maksudnya. Ia kemudian menerima wahyu berikutnya yang berbunyi:
قلنا يا صبر كو نى
برد اً و سلا ماً
“Kami berkata: “Hai
keteguhan hati, jadilah kamu sarana untuk mendatangkan dingin dan
keselamatan”“.
Barulah ia menyadari
bahwa dalam hal ini yang dimaksud sebagai api adalah keteguhan hati. (Izalai
Auham, Amritsar, Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 3, hal. 255-262, London, 1984).
* * *
Sekarang ini adalah
masa dimana ribuan celaan dan keraguan telah dilontarkan manusia dimana agama
Islam telah mengalami serangan dari berbagai penjuru. Allah s.w.t. sudah
berfirman:
“Tiada suatu benda
pun melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tak terbatas dan
tidaklah Kami turunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu”. (S.15
Al-Hijr:22).
Jadi sekarang inilah
saatnya telah muncul kebutuhan untuk mengungkapkan wawasan dan kebenaran yang
tersembunyi di dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang akan menyangkal setiap bentuk
agama filosofis atau pun yang non-filosofis. Karena adanya serangan dari
mereka yang menganut aliran-aliran filsafat baru, tibalah saatnya bagi
manifestasi wawasan-wawasan yang tersembunyi tersebut. Tanpa adanya
pengungkapan wawasan demikian maka mustahil Islam bisa menang di atas
agama-agama palsu tersebut.
Kemenangan yang
diperoleh di ujung sebilah pedang tidak ada artinya sama sekali karena akan
menghilang kembali dengan menurunnya kekuasaan si pemegang pedang. Kemenangan
haqiqi hanya bisa diperoleh melalui pembeberan barisan wawasan dan kebenaran
abadi. Kemenangan seperti inilah yang sedang diperjuangkan Islam. Nubuatan
tersebut berkaitan dengan masa sekarang. Sekaranglah waktunya bagi Al-Qur’an
untuk membuka semua pengertian-pengertian yang selama ini tersembunyi.
Seorang yang
berpikir akan mudah memahami bahwa tidak ada makhluk ciptaan Allah yang Maha
Agung yang tidak memiliki sifat-sifat yang indah dan ajaib. Kalau ada
seseorang yang mencoba melakukan penelitian tentang sifat dan keajaiban
seekor lalat maka sampai akhir Hari Kiamat pun kerjanya belum akan
selesai.
Dengan sendirinya
keajaiban dan sifat-sifat Al-Qur’an tentunya lebih banyak lagi dibanding seekor
lalat. Karena itu tidak diragukan lagi bahwa keajaiban-keajaiban yang
dikandung Al-Qur’an sesungguhnya lebih banyak lagi dibanding keseluruhan alam
semesta ini. Jika manusia menyangkal hal tersebut, sama saja dengan
menyangkal sumber Ilahi dari Al-Qur’an karena tidak ada apa pun di dunia ini
yang merupakan ciptaan Tuhan yang tidak mengandung keajaiban-keajaiban tanpa
batas.
Kebenaran dan tafsir
baru mutiara-mutiara hikmah yang dikandung Al-Qur’an yang bisa mengembangkan
pemahaman selalu diungkapkan menurut saat dibutuhkan. Munculnya penyelewengan
atau bid’ah dalam agama menuntut adanya tafsir baru yang arif.
Jelas bahwa
Al-Qur’an itu sendiri sudah merupakan mukjizat, namun keakbaran dari mukjizat
tersebut adalah juga karena merangkum seluruh kebenaran yang tidak ada
batasnya yang dimanifestasikan pada saatnya yang tepat. Dengan munculnya
kesulitan pada suatu masa, wawasan-wawasan yang selama itu tersembunyi
kemudian diungkapkan.
Pada masa sekarang
ini sedang berkembang pesat pengetahuan-pengetahuan sekuler yang sebagian
terbesar bertentangan dengan Al-Qur’an serta menjadikan manusia menjadi
fasik. Banyak sekali ditemukan keajaiban-keajaiban baru di dalam bidang
matematika, fisika dan filsafat. Patutlah kiranya jika pintu kemajuan
keruhanian dan pemahaman sepantasnya juga dibukakan agar tersedia sarana
untuk menangkal setiap kemudharatan baru. Ketahuilah bahwa sesungguhnya pintu
tersebut sudah dibukakan dan Allah yang Maha Agung telah memutuskan untuk
mengungkapkan keajaiban-keajaiban Al-Qur’an yang selama ini tersembunyi guna
menghadapi para filosof dunia yang angkuh tersebut.
Para ulama setengah
matang yang sesungguhnya menjadi musuh agama Islam, tidak akan bisa
menggagalkan maksud Tuhan tersebut. Kalau mereka tidak menghentikan
kejahilannya maka mereka akan dihancurkan dan mereka akan menerima cemeti
Ilahi yang akan menjadikan mereka menjadi debu rata dengan tanah. Orang-orang
bodoh ini tidak mau membuka mata melihat kondisi di sekitar mereka.
Melalui mereka itu
Al-Qur’an sepertinya ditampilkan sebagai sesuatu yang lemah dan hina, namun
sekaranglah saatnya Kitab Suci Al-Qur’an akan muncul sebagai pemenang.
Kitab Suci Al-Qur’an
akan muncul di medan laga sebagai singa yang akan menghancur-leburkan seluruh
filosofi dunia dan akan mencanangkan keunggulan dirinya serta akan memenuhi
nubuatan bahwa Islam akan menang di atas semua agama lainnya seperti yang
dinyatakan dalam firman:
“Supaya Dia
menyebabkannya menang atas semua agama”. (S.61 Ash-Shaf:10)
untuk kemudian
mencapai kulminasinya dalam pemenuhan nubuatan keruhanian bahwa:
“Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama mereka”. (S.24 An-Nur:56)
Tidak mungkin
menegakkan agama di dunia secara sempurna jika melalui paksaan. Agama Islam
dikatakan telah tegak sepenuhnya di muka bumi jika agama lain yang akan
menentangnya sudah tidak ada lagi dan semua lawan telah meletakkan senjata
mereka. Saat itu sudah tiba sekarang dan para ulama bodoh tidak akan bisa
menghalanginya. Sekarang ini Putra Maryam yang bapak ruhaninya adalah sang
Maha Pengajar, yang juga mirip dengan Adam, akan membagi-bagikan harta karun
dari dalam Al-Qur’an di antara umat manusia sedemikian rupa sehingga mereka
puas sepenuhnya dan tidak menginginkan lainnya lagi. (Izalai Auham, Amritsar,
Riyaz Hind Press, 1308 H; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 3, hal.
464-467, London, 1984).
|
Telah lebih sebulan
ini harian Republika sering kali memuat artikel tentang Jemaat Ahmadiyah dan
Pendirinya dalam berbagai judul. Sejauh yang kami ketahui, sangat sedikit
sekali, bahkan boleh dikatakan tidak ada, upaya Republika untuk
mengkonfrontir isi artikel itu kepada pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia,
padahal hal itu sangat penting agar pembaca Republika memperoleh informasi
yang benar, akurat dan berimbang. Sekedar contoh kelemahan akibat tidak
dilaksanakannya amanat etika jurnalistik itu terjadi pada wawancara Rachmat
Santosa Basarah dengan Ahmad Hariadi yang dimuat Republika tanggal 14 Mei
2008 yang lalu.
Dalam wawancara itu,
Ahmad Hariadi ditanya : Siapa pemimpin Ahmadiyah sedunia sekarang?
Hariadi menjawab:
Mirza Ghulam Ahmad, lahir pada 1835 dan meninggal pada 1908. Dia mendirikan
Ahmadiyah tahun 1889. Setelah meninggal, dia diganti oleh khalifah Ahmadiyah
pertama. Kemudian, bertutur-turut diganti oleh khalifah kedua, ketiga, dan
keempat. Khalifah keempat ini adalah cucunya Mirza Ghulam Ahmad, namanya,
Tahir Ahmad. (Tugas saya menyadarkan Jemaat Ahmadiyah, Republika, 14 Mei
2008, http://www.republika .co.id/koran_ detail.asp?
id=333920&kat_id=505)
Semua orang yang
meneliti secara langsung pasti tahu bahwa Hadhrat Mirza Tahir Ahmad sudah
wafat beberapa tahun yang lalu. Sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah dipimpin
oleh Khalifahnya yang kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Kekeliruan seperti
ini sungguh sangat keterlaluan, sebab ini merupakan fakta yang terbuka dan
jelas, setiap saat siapa saja dapat mengakses situs resmi Jemaat Ahmadiyah
www.alIslam. org; www.mta.tv; atau situs-situs resmi Ahmadiyah di berbagai
Negara di dunia.
Begitu pula dalam
Republika 16 April 2008 (‘Wahyu Cinta’ Mirza Ghulam) tertulis, “Ada 88 kitab
– termasuk – Tadzkirah – yang dikarang MGA …” Padahal Tadzkirah bukan
dikarang oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
Bila hal-hal
‘sederhana’ semacam itu terjadi kekeliruan maka dapat dipastikan terjadi
kekeliruan dalam tulisan-tulisan Republika lainnya yang berkaitan dengan
Jemaat Ahmadiyah dan pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang
kebanyakannya dikutip dari pihak-pihak yang berseberangan dengan Jemaat
Ahmadiyah atau mantan penganut aliran Ahmadiyah seperti Hasan Aodah maupun
Ahmad Hariadi yang dikeluarkan dari aliran Ahmadiyah. – bukan keluar
melainkan dikeluarkan dari Ahmadiyah. Republika hanya bertumpu kepada Hasan
Bin Mahmud Aodah tentang asumsi bahwa MGA adalah pelayan imperialis Inggris.
Sepatutnya Republika menghubungi pihak pemerintah Inggris ataupun India untuk
memastikan kebenaran klaim Aodah itu.
Mengingat tidak
mungkin semuanya dapat dikemukakan maka sebagai pemenuhan atas hak jawab.
Berikut ini kami sampaikan pernyataan Pendiri Jemaat Ahmadiyah tentang
keIslaman beliau dan kecintaan beliau kepada agama Islam dan Rasulullah
Muhammad SAW.
Jemaat Ahmadiyah
Ahmadiyah adalah
sebuah Jamaah Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun
1889 Masehi/ 1306 Hijriah, di Qadian India. Dan beliau mendakwakan diri
sebagai Imam Mahdi dan al Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi
Muhammad SAW.
Jemaat Ahmadiyah
bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah bekerja untuk menghidupkan Agama
Islam dan menegakkan syari’at Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis,
“Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di
barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di
dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang
terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian
yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian
adalah wujud terpilih Muhammad SAW. ( Rukhani Khazain, vol. 15, hal. 141);
Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu
adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna
dibanding semua Rasul . . . Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum
bimbingan yang benar dan sempurna.” (Rukhani Khazain, vol. 1 hal. 557
Jemaat Ahmadiyah
berpegang teguh kepada Kitab Suci Al Quranul Karim. Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad menulis, “Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia adalah karena bisa
bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa
mengikuti Kitab Suci Al Qur’an.” (Rukhani Khazain vol. 10 hal. 442); “Apa
yang termaktub di dalam Al Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta
berada diatas semua wahyu-wahyu lainnya.” (Majmua Isytiharat, vol. 2 hal.
84); “Kitab Suci Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang kapanpun tidak ada
dan tidak akan pernah ada tandingannya.” (Malfuzhat, vol. III, hal. 57)
Berkenaan dengan dua
kalimah Syahadat, beliau menulis, ““Inti dari kepercayaan saya adalah: Laa
Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulull ahu (Taka ada Tuhan selain Allah,
Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan
dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah,
berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah: Sayyidina
Maulana Muhammad SAW adalah Khataman Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang
termulia dari antara nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syari’at telah
disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah
satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk
mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)
Jemaat Ahmadiyah
berkeyakinan bahwa nabi Muhammad saw adalah khataman nabiyyin. Pendiri Jemaat
Ahamdiyah menulis,
“Tuduhan yang
dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak
mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan
kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah
Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu
kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seperseratus ribu dari yang
itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian
kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung
di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah
kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan
mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna
mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu)
meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul
Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat
kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan
kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur
oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari
mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman
342)
“Dengan sungguh-sungguh
saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang
tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang
yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)
“Martabat luhur yang
diduduki junjungan dan penghulu kami, yang terutama dari semua manusia, nabi
yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin SAW telah berakhir dalam diri
beliau yang di dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tak
dapat dicapai manusia.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taudhih Maram, 1891 hal.
23)
“Yang dikehendaki
Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad SAW
adalah Nabi-Nya, dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi
dari semua makhluk.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Kisti Nuh, tahun 1902,
halaman 15)
“Untuk sampai
kepada-Nya semua pintu telah tertutup, kecuali sebuah pintu yang dibukakan
oleh Qur’an Majid dan semua kenabian dan semua kitab-kitab yang terdahulu
tidak perlu lagi diikuti, sebab kenabian Muhammadiyah, mengandung dan
meliputi kesemuanya itu. Selain ini semua jalan tertutup. Semua jalan yang
membawa kepada Tuhan terdapat di dalamnya. Sesudahnya tidak akan datang
kebenaran baru, dan tidak pula sebelumnya ada suatu kebenaran yang tidak
terdapat di dalamnya. Sebab itu, diatas kenabian ini habislah semua kenabian.
Memang sudah sepantasnya demikian sebab sesuatu yang ada permulaannya, tentu
ada pula kesudahannya.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, AL Wasiyat, JAI 2006,
hal. 24)
Sesudah Nabi
Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang,
kecuali bila ia lebih dahulu menajdi seorang ummati dan pengikut dari Nabi
Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tajalliyati Ilahiyah, 1906, hal.
9)
“Semua pintu
kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi
Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya kedalam beliau.” (Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad, Ek Ghalti ka Izalah, 1901, hal. 3)
Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad sangat menyintai Rasulullah Muhammad SAW, berkenaan dengan kecintaan
dan keediaan beliau mengorbankan jiwa raga demi kemuliaan Rasulullah Muhammad
SAW beliau menulis,
“Saya katakan dengan
sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan srigala buas,
tetapi kami tak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan
serangan-serangan keji terhadap Nabi Muhammad yang kami cintai, orang yang
lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami.” (Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad, Paighami Sulh, 1908 hal. 30)
“Sekiranya
orang-orang ini menyembelih anak-anak kami didepan mata kami dan mencincang
apa-apa yang kami cintai sampai berkeping-keping dan membuat kami mati dengan
hina dan malu dan merampas semua harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu
tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian
dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi kami, Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad, Aina Kamalati Islam, 1893, hal. 52)
“Aku menyaksikan
suatu kehebatan dalam wajahmu yang bersinar cemerlang, yang melebihi semua
sifat manusia lain. Pada wajahnya tampak Tuhan Muhaimin dan seluruh
keadaannya bagaikan cermin. Yang menampakkan keindahan sifat Ilahi dan
kebesarannya sungguh menyilaukan. Ia mengungguli seluruh manusia dengan
kemampuan, kesempurnaan dan keelokannya dan kehebatan serta dalam kesegaran
jiwanya. Sedikitpun tidak diragukan lagi, Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam adalah terbaik diantara seluruh makhluk. Paling mulia diantara yang
mulia dan inti orang-orang yang terpilih. Segala sifat yang terbaik dan
terpuji, pada diri beliaulah puncaknya. Anugerah nikmat yang ada pada setiap
zaman, telah berakhir dalam dirinya. Beliau adalah yang terbaik dari semua
orang yang mendapat Qurb Ilahi sebelumnya. Keunggulan beliau karena kebaikan-kebaikan,
bukan karena zaman. Wahai Tuhanku, turunkanlahh berkat-berkat kepada Nabi-Mu
abadi selamanya, di dunia ini dan di hari kebangkitan kedua.” (Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad, Aina Kamalaati Islam, halaman 594-596)
Dalam usia lebih
dari 100 tahun, Jemaat Ahmadiyah tjelah berkembang dan berada di hampir 200
negara di dunia dengan jumalah anggota lebih dari 200 juta jiwa.
Dalam upaya
menegakkan agama Islam dan menyebarkan syiar Islam keseluruh dunia. Jemaat
Ahmadiyah mendapat dana dari pengorbana para anggota yaitu infaq/ iuran
setiap anggota wajib membayar infaq /iuran tiap bulannya sebesar 1/16 sampai
dengan 1/3 dari pendapatan perbulan.
Jemaat Ahmadiyah
tidak pernah meminta atau menerima satu sen pun dana/biaya dari luar: baik
dari perorangan / organisasi/ pemerintah/ Negara.
Jemaat Ahmadiyah
Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan
oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang
kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan
tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah keyakinan
seluruh umat Islam dari golongan manapun. Tugasnya adalah menghidupkan
kembali agama Islam dan menegakkan kembali syariat Islam.
Jemaat Ahmadiyah
pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1925, diundang oleh Persatuan
Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika itu, yang akhirnya Maulana Rahmat Ali
HAOT merupakan Muballigh pertama yang diutus ke Indonesia oleh Hadhrat
AL-Hajj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad rh., Khalifah Ahmadiyah ketika itu.
Jemaat Ahmadiyah
berperan aktif dalam proses pendirian NKRI dan salah seorang anggotanya,
Sayyid Shah Muhammad adalah Ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau
mendapat bintang jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia atas
jasa-jasanya.
Jemaat Ahmadiyah
Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai bunyi Lembaran Berita Negara no.
26 tahun 1953 dengan penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13
Maret 1953.
Dalam upaya
menyebarkan agama Islam, Jemaat Ahmadiyah mengirimkan ribuan Da’i ke seluruh
penjuru dunia; membangun ribuan masjid di berbagai penjuru dunia diantaranya
Masjid Baitul Futuh, Morden London UK yang merupakan mesjid terbesar di Eropa
Barat; menerjamahkan Al Qur’an kedalam 100 bahasa di dunia sehingga seluruh
bangsa dapat mempelajari secara langsung Kitab Suci tersebut; Mendirikan
stasiun televisi MTA Internasional (MTA 1; MTA 2 dan MTA 3 Al Arabiyya) yang
dipancarkan ke seluruh penjuru dunia 24 jam nonstop menggunakan tujuh buah
satelit; melaksanakan bakti kemanusiaan melalui Humanity First tanpa
memandang ras, agama, keyakinan maupun bangsa, termasuk membantu
menanggulangi Tsunami di Aceh;
Jamaah Ahmadiyah
Internasional dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V
yang saat ini berkedudukan di London, Inggris. Dalam rangkaian muhibah
pimpinan tertinggi Jamaah Ahmadiyah Internasional, tanggal 17-19 April 2008
Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menghadiri pertemuan tahunan
Ahmadiyah Ghana yang dihadiri oleh Presiden Ghana, Ageyaku Kufour, dan wakil
Presiden, Alhaj Aliu Mahama dan pajabat-pejabat Negara lainnya.
Jemaat Ahmadiyah
perpegang teguh kepada mottonya, Love for All, Hatred for None (Cinta kepada
semua orang dan tiada kebencian kepada siapapun.)
Oleh: M.B. Shamsir
Ali, SH, SHD
|
Nur akbar telah
dianugrahkan kepada sesosok manusia yang sempurna, dan bukan kepada malaikat,
bukan kepada bintang-bintang, bukan kepada bulan, bukan kepada matahari,
bukan kepada samudra atau sungai, tidak juga kepada batu mirah, emerald,
mutiara atau jamrut, singkatnya bukan kepada benda lain di bumi atau langit.
Nur tersebut hanya
bagi wujud suci yang contoh kehidupannya demikian sempurna sebagai penghulu
dan junjungan kita, Penghulu segala Nabi, Penghulu semua makhluk hidup, yang
terpilih, Muhammad saw. Nur tersebut dikaruniakan kepada manusia suci ini dan
sejalan dengan derajat mereka, juga kepada mereka yang memiliki warna yang
mendekati sama dengan beliau. Keagungan demikian terdapat dalam bentuknya
yang paling sempurna dalam wujud penghulu, junjungan dan pembimbing kita,
yang suci Rasulullah Muhammad saw. sebagai insan yang terpilih. (Ayena
Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam
Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 160-162, London, 1984).
* * *
Aku selama ini
selalu menduga-duga sebenarnya berapa tingginya derajat Nabi dari bangsa Arab
yang bernama Muhammad saw. ini. Tidak akan ada yang bisa mencapai ketinggian
derajat beliau dan tidak ada manusia yang akan mampu menduga secara tepat
keluhuran keruhanian beliau. Sayang sekali belum semua manusia mengakui hal
itu sebagaimana mestinya. Beliau itulah pahlawan ruhani yang telah
mengembalikan kepada dunia Ketauhidan Ilahi yang telah hilang. Beliau
mencintai Tuhan-nya dengan sepenuh hati sedangkan hatinya luluh dalam kasih
kepada umat manusia. Karena itulah maka Allah yang mengetahui isi hati
beliau, telah mengangkatnya di atas semua Nabi-nabi dan umat manusia dari
kelompok awal maupun kelompok akhir, serta menganugerahkan kepada beliau apa
pun yang diinginkannya dalam masa hidupnya.
Beliau adalah sumber
mata air semua keberkatan dan jika ada manusia yang mengaku dirinya lebih
tinggi tanpa mengakui derajat beliau, sesungguhnya ia itu bukan manusia
tetapi anak Syaitan. Beliau telah dikaruniakan kunci kepada semua keagungan
dan beliau telah dirahmati dengan khazanah dari setiap pemahaman. Mereka yang
tidak memperoleh bimbingan melalui beliau, sama dengan orang yang kehilangan
segalanya.
Aku ini bukan
apa-apa dan tidak memiliki apa pun. Aku akan menjadi orang yang tidak
bersyukur jika aku tidak mengaku bahwa aku mendapat pemahaman tentang
Ketauhidan Ilahi melalui Rasul ini. Dengan Nur beliau, pengakuan akan adanya
wujud dari Tuhan yang Maha Hidup, aku peroleh melalui Rasul yang sempurna
ini. Kehormatan untuk bisa berbicara dengan Allah swt. dimana aku bisa
memandang Wujud-Nya adalah juga melalui Rasul akbar tersebut. Sinar dari
matahari pembimbing ini menerpa tubuhku laiknya sinar surya dan aku akan
memperoleh pencerahan terus menerus sepanjang aku tetap terarah kepadanya.
(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 22, hal. 118-119, London, 1984).
* * *
Wahai kalian yang
bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semuanya yang ada di barat atau di
timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran haqiqi di dunia ini
hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat dalam
Al-Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan
sekarang bertahta di atas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud
terpilih Muhammad saw.
Bukti dari hidup
keruhanian dan keluhuran keagungannya adalah dengan mengikuti dan mencintai
beliau maka kita akan menjadi penerima dari Rohul Kudus dan akan dikaruniai
berkat bisa bercakap dengan Tuhan dan menyaksikan tanda-tanda samawi.
(Tiryaqul Qulub, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 15, hal. 141,
London, 1984).
* * *
Manusia yang dalam
wujud, perilaku dan sifat-sifatnya serta yang melalui fitrat keruhaniannya
yang suci telah memberikan contoh kesempurnaan dalam ketulusan dan keteguhan,
dan dikenal sebagai manusia yang sempurna adalah Hadzrat Muhammad saw.
Manusia yang paling sempurna, baik sebagai manusia mau pun sebagai seorang
Rasul, yang datang membawa berkat akbar, wujud siapa telah menimbulkan
kebangkitan kembali keruhanian dan dengan demikian telah menghidupkan kembali
dunia, Rasul yang berberkat itu, Khataman Nabiyin, penghulu para muttaqi,
terbaik dari antara semua Rasul adalah Muhammad saw. Ya Allah, turunkanlah
berkat dan rahmat yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa
pun sejak awal masa dunia ini. Jika Rasul akbar ini tidak muncul di dunia
maka kami tidak akan memiliki bukti kebenaran dari Rasul-rasul yang berada di
bawah derajat beliau seperti Yunus, Ayub, Isa Ibnu Maryam, Maleakhi, Yahya,
Zakaria dan lain-lain. Walaupun mereka itu semuanya adalah sosok-sosok orang
yang dihormati dan menjadi kekasih Allah swt. namun mereka berhutang budi
kepada Rasul akbar ini bahwa mereka kemudian diakui sebagai Nabi-nabi yang
benar.
Ya Allah,
turunkanlah berkat-Mu atas diri beliau dan para pengikut beliau serta para
sahabat beliau. Semua puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. (Itmamul
Hujjah, Gulzar Muhammadi Press, Lahore, 1311 H, sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 8, hal. 308, London, 1984).
* * *
Kalau kita
pertimbangkan secara adil maka dari semua rangkaian para Nabi, kita akan
menemukan satu sosok yang paling gagah berani dan amat dikasihi Allah swt.,
penghulu segala Nabi, kebanggaan dan mahkota para Nabi yang bernama Muhammad
Mustafa dan Ahmad Mujtaba. Jika seseorang berjalan di bawah naungan bayangan
beliau selama sepuluh hari maka ia akan memperoleh Nur yang sebelumnya tidak
akan pernah didapatnya dalam seribu tahun. Kami telah menemukan berbagai Nur
dengan cara menteladani Nabi Suci ini dan siapa pun akan menemukan hal yang
sama jika menteladani beliau, karena ia akan memperoleh keridhoan Allah swt.
sehingga tidak ada sesuatu apa pun lagi yang tidak mungkin baginya. Allah
yang Maha Hidup yang tersembunyi dari manusia, akan menjadi Tuhan-nya dan
semua tuhan palsu akan diinjak-injak di bawah kakinya. Ia akan diberkati di
mana-mana dan Kekuasaan Ilahi akan mengikutinya. Salam bagi mereka yang
mengikuti bimbingan ini. (Siraj Munir, Ziaul Islam Press, Qadian, 1897,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 12, hal. 82-83, London, 1984).
* * *
Di bawah langit ini
hanya ada satu Rasul dan hanya ada satu Kitab. Rasul itu adalah Hadzrat
Muhammad saw. yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding
semua Rasul, beliau adalah Khataman Nabiyin, manusia yang terbaik dimana jika
kita menteladaninya maka kita akan bertemu dengan Allah swt. dan semua tabir
kegelapan akan terangkat serta kita akan bisa menyaksikan keselamatan haqiqi
bahkan ketika masih di dunia ini.
Kitab tersebut
adalah Al-Qur’an yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna, melalui
mana manusia bisa memperoleh pengetahuan dan pemahaman Ilahi dan hati menjadi
bersih dari segala kelemahan manusiawi serta diangkat kerak kebodohan,
keacuhan dan keraguannya sehingga ia mampu mencapai tingkat kepastian yang
paling sempurna. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
vol. 1, hal. 557-558, London, 1984).
* * *
Ada berjuta-juta
manusia yang berfitrat bersih di dunia ini dan masih akan banyak pula ditemui
di masa depan, namun manusia terbaik yang pernah ditemui serta hamba Allah
yang paling mulia adalah Muhammad saw. saja.
Sesungguhnya Allah mengirimkan
rahmat-Nya kepada Nabi ini dan para malaikat-Nya mendoakan dia. Hai
orang-orang mukmin, kamu pun harus mengirimkan salawat atas dia, Nabi ini,
dan sampaikanlah salam kepadanya dengan doa keselamatan”. (QS.Al-Ahzab:57).
Kita sementara tidak
perhatikan orang-orang suci yang penjelasannya tidak terlalu lengkap di dalam
Al-Qur’an. Kita konsentrasikan perhatian kepada para Rasul yang disebutkan di
dalam Al-Qur’an seperti Musa, Daud, Isa dan Nabi-nabi lain, salam atas mereka
semua. Kami bersumpah dengan memanggil Allah sebagai saksi bahwa jika Hadzrat
Rasulullah saw. tidak turun di dunia ini dan Al-Qur’an tidak diwahyukan, dan
kami tidak ada menyaksikan segala berkat yang telah kami saksikan, maka
kebenaran dari semua Rasul-rasul lainnya akan tetap merupakan suatu hal yang
meragukan di kalbu kami.
Tidak ada realitas
yang bisa diungkapkan dari dongeng-dongeng yaqng beredar karena bisa jadi
cerita itu tidak benar dan bisa saja semua mukjizat yang diakukan kepada
masing-masing Rasul tersebut merupakan hal yang dilebih-lebihkan karena tidak
ada tandanya yang tersisa di zaman ini. Dari Kitab-kitab lama tersebut kami
pun tidak akan mungkin bisa meyakini secara pasti bahwa Tuhan itu benar ada,
karena kami tidak diberi keyakinan bahwa Tuhan memang berbicara kepada
manusia. Namun dengan kedatangan Hadzrat Rasulullah saw. maka semua cerita
tersebut menjadi kenyataan. Kita tidak meyakininya semata-mata sebagai suatu
pernyataan saja tetapi sebagai hasil pengalaman dari apa yang namanya
berbicara dengan Tuhan, bagaimana tanda-tanda Tuhan dimanifestasikan dan
bagaimana doa-doa dikabulkan. Semua hal ini telah kami temui karena
menteladani Hadzrat Rasulullah saw. sedangkan apa yang diungkapkan
orang-orang sebagai cerita, kami malah telah menyaksikannya. Kami telah melekatkan
diri kami kepada seorang Rasul yang telah memanifestasikan Tuhan kepada kami.
Seorang penyair
mengemukakannya sebagai:
Muhammad dari Arab, Raja dua dunia,
dengan perbatasan yang dijaga Rohul Kudus.
Aku tak kan menyebutnya Tuhan, namun
mengenali wujudnya adalah mengenal Tuhan.
Bagaimana caranya
kami bisa bersyukur kepada Allah swt. yang telah mengaruniakan rezeki mulia
untuk menjadi pengikut seorang Rasul yang menjadi matahari bagi kalbu manusia
yang muttaqi sebagaimana laiknya sang surya bagi tubuh kita. Beliau muncul di
saat kegelapan dan telah mencerahkan dunia dengan Nur beliau. Beliau tidak
ada merasa lelah dan pegal sampai telah dibersihkannya jazirah Arab dari
perbuatan menyekutukan Allah swt. Beliau adalah bukti dari kebenaran wujud
beliau sendiri karena Nur beliau tetap kemilau di segala zaman, sedangkan
kepatuhan sepenuhnya kepada beliau akan menyucikan seseorang sebagaimana air
jernih sebuah sungai membersihkan kain yang kotor. Siapakah yang telah datang
kepada kami dengan hati yang tulus dan masih juga belum menyaksikan Nur
tersebut, padahal sebelumnya ia telah mengetuk di pintu yang sama tanpa
hasil? Hanya saja sayangnya kebanyakan manusia lebih memilih kehidupan akhlak
yang rendah dan tidak menginginkan adanya Nur masuk ke dalam batinnya. (Chasma
Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, vol. 23, hal. 301-303, London, 1984).
|

Pendahuluan
Kemajuan Jemaat
Ahmadiyah yang pesat dan mengagumkan di seluruh dunia menarik serta
membangkitkan perhatian umum untuk mempelajari hal ikhwal gerakan yang meluas
ini dengan lebih mendalam.
Terutama untuk
mengenal keadaan orang yang mendirikan gerakan Ahmadiyah ini. Oleh karena itu
saya bermaksud menguraikan secara ringkas dan tegas tentang riwayat hidup
pendiri gerakan Ahmadiyah. Supaya, dengan karunia llahi, penjelasan ini akan
menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mencari kebenaran, dan menggerakkan hati
mereka untuk menyelidiki lebih lanjut, serta meratakan jalan bagi orang-orang
yang hendak masuk ke dalam kerajaan Ilahi. Amin.
A h m a d
Pendiri Jemaat
Ahmadiyah bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama beliau yang asli hanyalah
Ghulam Ahmad. Mirza melambangkan keturunan Moghul. Kebiasaan beliau adalah
suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu
menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam
ilham-ilham , Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad juga.
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14
Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam
Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar. Yakni beserta beliau lahir pula
seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia.
Demikianlah sempurna sudah kabar-ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab
agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar. Qadian terletak 57 km sebelah
Timur kota Lahore, dan 24 km dari kota Amritsar di propinsi Punjab, India.
Keturunan Barlas
Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad. adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman
Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga
terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana.
Tetapi pada abad kesepuluh Hijriah atau abad keenambelas masehi, seorang
keturunan Haji Barlas, bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya
hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan
sungai Bias dengan mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km
jauhnya darii sungai tersebut.
Q a d i a n
Mirza Hadi Beg
adalah seorang cerdik pandai, karena beliau oleh pemerintah pusat Delhi
diangkat sebagai qadhi (hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab
kedudukan beliau sebagai qadhi itulah maka tempat tinggal beliau disebut
Islampur Qadhi. lambat laun kata Islampur hilang, tinggal Qadhi saja.
Dikarenakan logat daerah setempat, akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.
Demikianlah keluarga
Barlas tesebut pindah dari Khorasan ke Qadian secara permanen. Selama
kerajaan Moghul berkuasa, keluarga inii senantiasa memperoleh kedudukan mulia
dan terpandang dalam pemerintahan negara. Setelah kejatuhan kerajaan Moghul,
keluarga ini tetap menguasai kawasan 60 pal sekitar Qadian, sebagai kawasan
otonomi. Tetapi lambat laun bangsa Sikh mulai berkuasa dan kuat, dan beberapa
suku Sikh dari Ramgarhia, setelah bersatu mulai menyerang keluarga ini.
Selama itu buyut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. tetap mempertahankan diri dari
serangan musuh. Teapi di zaman kakek beliau, daerah otonomi keluarga ini
menjadi sangat lemah, dan hanya terbatas di dalam Qadian saja yang menyerupai
benteng dengan tembok pertahanan di sekelilingnya. Daerah-daerah lain telah
jatuh ke tangan musuh. Akhirnya bangsa Sikh dapat juga menguasai Qadian
dengan jalan mengadakan kontak rahasia dengan beberapa penduduk Qadian, dan
semua anggota keluarga ini ditawan oleh bangsa Sikh. Tetapi setelah beberapa
hari, keluarga ini diiziinkan meninggalkan Qadian, lalu mereka pergi ke Kesultanan
Kapurtala dan menetap disana selama 12 tahun. Setelah itu tibalah zaman
kekuasaan Maharaja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, dan
beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga tersebut kepada ayah
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. yang bekerja dalam tentara Maharaja itu beserta
saudara-saudaranya.
Kemudian datanglah
bangsa Inggris yang mengalahkan pemerintah Sikh, dan merampas segala kekayaan
keluarga ini, kecuali satu daerah Qadian yang amat kecil dibiarkan dalam
kepemilikan keluarga tersebut.
Dokumen Tentang
Keluarga
Baiklah sekarang
kami cantumkan di bawah iini apa yang ditulii oleh Sir Lepel Griffin dalam
bukunya The Punjab Chiefs, tentang keluarga Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad :
"Pada tahun 1530, tahun-tahun terakhir pemerintahan kaisar Babar, Hadi
Beg, seorang Moghul dari Samarkand , hijrah ke Punjab dan menetap di daerah
Gurdaspur. Ia adalah seorang terpelajar serta bijak, dan diangkat oleh
pemerintah menjadi qazi atau magistrate untuk 70 kampung di sekitar Qadian.
Dialah yang mendirikan Qadian, dan mula-mula dinamainya Islampur Qazi, yang
lambat laun berubah menjadi Qadian. Keluarga ini tetap memegang kedudukan dan
pangkat yang pantas serta terpandang dalam pemerintahan hingga beberapa
turunan. Hanya waktu pemerintahan Sikh keluarga ini jatuh miskin."
"Gul Muhammad dan puteranya yang bernama Ata Muhammad, terus menerus
bertempur dengan Ramgarhia serta Kanahaya Misals yang menguasai
kawasan-kawasan sekitar Qadian. Akhirnya semua daerah itu lepas dari tangan
mereka, dan Ata Muhammad melarikan diri ke Begowal meminta perlindungan pada
Sardar Fateh Singh Ahluwalia (buyut kepala suku penguasa kawasan Kapurtala
sekarang), dan ia menetap disana selama 12 tahun. Ketika (Maharaja) Ranjit
Singh menaklukkan seluruh kawasan Ramgarhia Misal, ia mengundang Ghulam
Murtaza kembali ke Qadian dan mengembalikan sebagian warisan kekeyaan nenek
moyangnya kepadanya."
"Kemudian Ghulam Murtaza dan saudaranya menjadi tentara Maharaja, dan
menjalankan tugas-tugas pentingnya di tapal batas Kashmir serta tempat-tempat
lainnya."
"Pada zaman Nao Nihal Singh dan Darbar, Ghulam Murtaza rutin memegang
jabatan (di ketentaraan). Pada tahun 1841, ia dikirim ke daerah Mandi dan
Kulu beserta Jenderal Ventura. Pada tahun 1843 ia memimpin tentara yang
dikirim ke Peshawar dan dalam kerusuhan di Hazarah ia berjasa besar. Dalam
pemberontakan tahun 1848, ia tetap setia pada pemerintah dan bersama
saudaranya, Ghulam Muhyiddn, ikut membantu pemerintah. Tatkala Bhai Maharaj
Singh sedang membawa pasukannya ke Multan untuk menolong Diwan Mul Raj, waktu
itu Ghulam Muhyiddin beserta kepala suku lainnya, Langer Khan Sahiwal dan
Sahib Khan Tiwana menggerakan orang-orang Islam, dan dengan tentara Misra
Sahib Dayal menyerang kaum pemberontak dan mengalahkan mereka secara total;
mengusir mereka sampai ke [sungai] Chenab, disana mereka 600 orang mati
tenggelam."
"[Ketika Inggris menguasai Punjab], harta benda dan tanah milik keluarga
ini dirampas kembali. Hanya satu, pensiun sebesar 700 rupis, dan hak miliik
untuk Qadian serta beberapa kampung sekitarnya ditetapkan bagi Ghulam Murtaza
serta saudara-saudaranya. Dalam pemberontakan tahun 1857, keluarga ini
memainkan peran yang terpuji. Ghulam Murtaza memasukkan banyak orang ke dalam
tentara, dan anaknya yang bernama Ghulam Qadir ikut dalam tentara Jendral
Nicholson di Trimughat ketika menghancurkan para pemberontak 46 Native
Infantry melarikan diri dari Sialkot."
"Jendral Nicholson telah memberikan sebuah surat penghargaan kepada
Ghulam Qadir yang menyatakan bahwa dalam tahun 1857 keluarganya di Qadian
distrik Gurdaspur betul-betul telah membantu dan setia kepada pemerintah,
melebih keluarga-keluarga lain di kawasan itu."1
Ghulam Murtaza
adalah seorang tabib yang sangat mahir. Ia wafat pada tahun 1876, dan anaknya
Ghulam Qadir senantiasa suka membantu para pejabat pemerintah dan ia mendapat
banyak surat penghargaan dari pemerintah. Ghulam Qadir pernah bekerja sebagai
superintendant di kantor pemerintah distrik dii Gudaspur. Anaknya meningal
waktu kecil, dan ia pungut keponakannya, Sultan Ahmad (putra Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad. sendiri-pen), sebagai anak. Ghulam Qadir wafat pada tahun 1883.
Mirza Sultan Ahmad pun mulai jadi pegawai pemerintah sebagai asisten wedana,
dan sekarang2 menjadi collecteur serta kepala daerah Qadian. Saudara
Nizamuddin yang bernama Isamuddin wafat pada tahun 1904, dan waktu
pengepungan Delhi, ia menjadi kepala pasukan dalam tentara Hadson Horse, dan
bapaknya yang bernama Ghulam Muhyiddin menjabat wedana.
Perlu rasanya
disebutkan disini, anak kedua Ghulam Mutaza, bernama Ghulam Ahmad adalah
orang yang mendirikan jemaat Ahmadiyah yang mashur ini dalam Islam. beliau
lahir pada tahun 1835, dan memperoleh pelajaran serta pendiidikan yang baik.
Pada tahun 1891 beliau menda'wakan diri sebagai Imam Mahdi atau Masih Mau'ud
menurut agama Islam. Beliau adalah seorang yang pandai dan alim, sehingga
perlahan-lahan banyaklah orang yang mengikuti beliau. Dan sekarang Jemaat
Ahmadiyah di Punjab serta kawasan-kawasan lainnya di India telah melebihi
tiga ratus ribu orang. Mirza Ghulam Ahmad mengarang benyak buku dalam bahasa
Arab, Farsi dan Urdu, serta memberikan penjelasan yang benar tentang masalah jihad.
Orang-orang berpendapat buku-buku itu sungguh telah menguntungkan orang-orang
Islam. Lama beliau mengalami penderitaan karena perlawanan pihak lain.
Acapkali beliau diseret ke pengadilan maupun ke dalam perdebatan-perdebatan.
Akan tetapi sebelum beliau wafat pada tahun 1908, beliau telah memperoleh
kedudukan yang demikian rupa sehingga orang-orang yang menentang pun
menghormati beliau.
Pusat golongan ini
di Qadian. Disana Anjuman Ahmadiyah telah mendirikan sebuah sekolah dasar dan
percetakan yang digunakan untuk menyiarkan ajaran serta berita-berita tentang
Jemaat ini. Pengganti Mirza Ghulam Ahmad as. yang pertama adalah Maulvi
Nuruddin, yang pernah menjadi tabib terkemuka di Maharaja Kashmir beberapa
tahun lamanya.
Keluarga ini
mempunyai hak kekuasaan atas seluruh kawasan Qadian dan hak untuk menarik
pajak 5 % dari tiga desa yang berdampingan dengan Qadian.
Masa Kanak-kanak
Setelah sejarah
ringkas silsilah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ., baiklah sekarang saya
terangkan keadaan beliau dimasa kanak-kanak. Sebagaimana telah dijelaskan,
Hz. Ahmad lahir pada tahun 1835 ketika ayah beliau sedang jaya dan gembira
karena berhasil mendapatkan kembali tanah-tanah pusaka, serta mempunyai
kedudukan yang baik di kerajaan Maharaja Ranjit Singh. Akan tetapi Allah
Ta’ala menghendaki supaya Hazrat Ahmad mendapat pendidikan dan pemeliharaan
dalam suasana yang lebih menarik perhatian beliau kepada-Nya.
Tiga tahun setelah
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lahir, Maharaja Ranjit Singh meninggal dunia, dan
kerajaan Sikh mulai melemah. Kejadian ini mempengaruhi keadaan ayah beliau.
Dan ketika seluruh Punjab jatuh ke tangan Inggris, tanah-tanah pusaka
dirampas kembali. Meskipun ayah beliau membelanjakan puluhan ribu rupis untuk
mengambil kembali tanah-tanah pusaka tersebut, tetap tak berhasil. Dan hal
ini sangat menyedihkan hatinya. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri telah
menerangkan hal itu dalam sebuah buku beliau sbb :
"Ayahanda berduka dan bersedih hati karena kekalahan-kekalahan yang
dialaminya dalam perkara-perkara untuk mendapatkan kembali tanah-tanah
pusakanya. Beliau telah membelanjakan 70.000 rupis dalam perkara-perkara
semacam itu, yang kesemuanya tidak berhasil sedikit pun. Kehilangan semua
harta pusaka dari tangan kami yang tidak mungkin diperoleh kembali. Kerugian
ini sangat menyedihkan ayahanda, dan beliau menjalani hidupnya dengan penuh
duka dan penyesalan yang amat dalam. Melihat keadaan ayahanda demikian, saya
mendapat gerakan dan kesempatan untuk mengadakan perubahan suci dan sejati
dalam diri saya. Pengalaman yang sedih dan pahit dari kehidupan ayahanda
menjadi pelajaran bagi saya untuk mencari kehidupan yang suci dan bersih dari
kekotoran dunia. Walaupun ayahanda masih memiliki beberapa kampung dan
mendapat hadiah tahunan dari pemerintah serta menerima pula pensiun dari
dinasnya, namun kesemuanya itu tidak berarti baginya dibandingkan dengan
kejayaannya dahulu. Oleh karena itulah beliau selalu sedih dan berduka.
Biasanya ayahanda suka mengatakan: "Usaha dan perjuangannya yang telah
aku lakukan untuk dunia yang kotor ini aku sudah menjadi wali atau orang
suci."
Demikian pula beliau sering membaca syair-syair yang menyatakan betapa dalam
penyesalan hati beliau atas kehidupannya sendiri yang sebagian besar
disia-siakannya dalam urusan dunia belaka. Dan hati beliau berhasrat untuk
mendapat rahmat serta karunia Allah.
Penyesalan beliau-- karena tidak mengusahakan apa-apa untuk menghadap ke
hadirat Ilahi--makin lama semakin bertambah kuat di hati beliau. Dengan sedih
beliau sering berkata: "Sayang aku telah merusak hidupku untuk urusan
dunia yang sia-sia belaka."
Tulisan tentang
keadaan ayah beliau tersebut, sewaktu beliau masih kanak-kanak sampai baligh,
menyatakan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kondisi tertentu sebagai
pelajaran dan pendidikan bagi beliau sehingga kecintaan terhadap dunia tidak
timbul di hati beliau. Ayah serta kakek beliau pada waktu itu memiliki
kedudukan tinggi dan terhormat di masyarakat dunia, dan para pejabat negara
sangat hormat serta ta'zim kepada mereka. Tetapi upaya mereka seumur hidup --
untuk merebut kemuliaan dan kekayaan dunia sebagaimana yang mereka inginkan
menurut hak keluarga itu -- akhirnya gagal semua. Hal ini menjadi pelajaran
bagi seorang yang hatinya suci dari segala kekotoran, bahwasanya dunia ini
tidak kekal dan akhirat-lah yang disukai oleh Allah. Maka Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad. pun tidak melupakan pelajaran ini sampai wafat. Walau dunia
mencoba menarik beliau dengan berbagai cara untuk menyesatkan beliau dari
tujuan, beliau tetap tidak pernah tergoda untuk keluar setapak pun dari jalan
yang benar.
Pendek kata, Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad. sewaktu kanak-kanak telah menyaksikan contoh-contoh yang
begitu pahit dalam kehidupan ayah beliau, sehingga kemauan untuk dunia telah
padam dari sanubari beliau. Ketika masih kecil sekali, segala keinginan dan
cita-cita beliau ditujukan pada keridhoan Ilahi.
Tuan Syekh Yaqub
Ali, pengarang riiwayat hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., telah mencantumkan
suatu kejadian yang amat menarik. Ketika kecil, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau,
"Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat."
Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau
ketika masih kanak-kanak. Dan segala keinginan serta cita-cita beliau
hanya ditujukan kepada Allah Ta’ala semata.
Demikianlah pula hal
ini menampilkan anggapan beliau ketika kecil bahwa hanya Allah lah yang dapat
menyempurnakan segala keinginan dan yang memberi taufik, juga untuk
beribadah. Sejak kecil beliau hidup dalam keluarga yang sama sekali condong
kepada dunia belaka. Tetapi beliau pada waktu kanak-kanak mempunyai
keinginan untuk shalat dan percaya bahwa taufik untuk menyempurnakan
keinginan itu hanya Allah lah yang dapat memberikannya.
Hal ini membuktikan
bahwa keadan semacam itu tidak mungkin timbul dalam sanubari seseorang selain
yang hatinya suci dari sentuhan dunia sama sekali, serta yang ditolong oleh
Allah untuk mengadakan suatu perubahan agung dan suci di dunia ini.
Masa-Masa Pendidikan
Kejahilan/kebodohan
benar-benar dominan ketika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lahir ke dunia ini.
Orang-orang umumnya tidak memberikan perhatian pada pelajaran dan pengetahuan
sedikitpun. Pada zaman pemerintahan Sikh, jarang terdapat orang yang pandai
membaca dan menulis. Sebagian besar orang-orang kaya dan terpandang pun buta
huruf. Tetapi karena Allah Ta’ala hendak menggunakan beliau untuk suatu
pekerjaan yang sangat agung, maka Dia menanamkan kemauan yang cukup kepada
beliau
Berbagai macam
hambatan dan keadaan jahiliah zaman itu tidak melalaikan sang ayah dari kewajibannya
menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya. Waktu Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad. masih kanak-kanak, ayah beliau telah mempekerjakan seorang guru
bernama Fazal Ilahi untuk mengajar beliau mengaji Al Quran serta beberapa
kitab bahasa Farsi (1841). Setelah berusia 10 tahun, dipanggil lagi seorang
guru bernama Fazal Ahmad yang amat baik dan benar-benar beragama (1845).
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri menuliskan bahwa guru itu mengajar beliau
beberapa kitab saraf-nahu (gramatika) bahasa Arab, dengan giat dan penuh
kecintaan. Setelah beliau as berusia 17 tahun, ditetapkan seorang guru lain
bernama Gul Ali Shah, untuk mengajarkan beberapa kitab nahu dan mantik (
logika). Ilmu ketabihan beliau pelajari dari ayah beliau sendiri yang
merupakan seorang tabib mahir dan pandai. Pelajaran semacam ini pada zaman
itu terpandang cukup tinggi, namun bila dibandingkan dengan kewajiban yang
akan beliau emban, hal itu tidak berarti sedikit pun. Kami telah menyaksikan
sendiri orang-orang lain yang ikut belajar bersama beliau dari
guru-guru yang sama. Mereka tidak memiliki kepandaian yang luar biasa dan
mereka tidak berbeda dengan orang-orang lain yang mendapatkan pelajaran
semacam itu. Begitu pun guru-guru yang mengajar beliau bukanlah alim
ulama yang tinggi ilmunya, melainkan hanya menguasai beberapa kitab bahasa
Arab serta Farsi saja. Pelajaran yang diberikan kepada beliau pada
waktu itu sama sekali tidak cukup untuk mempersiapkan beliau terhadap
kewajiban yang bakal Allah Ta’ala serahkan kepada beliau
Setelah Masa
Pendidikan
Ketika Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad. selesai menuntut pelajaran, waktu itu pemerintah Inggris
sepenuhnya telah menguasai seluruh Punjab. Dan bahaya pemberontakan pun telah
padam. Warga India telah mulai bekerja di pemerintah Inggris untuk mendapakan
kedudukan dan kemajuan. Para pemuda dari berbagai keluarga telah mulai
bekerja di kantor-kantor pemerintah. Dalam situasi demikian, Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad. yang sama sekali tidak tertarik pada pekerjaan pertanian --
atas kehendak ayah beliau -- berangkat di kantor Bupati Sialkot. Tetapi
sebagian besar waktu beliau digunakan untuk menimba ilmu. Waktu di luar
beliau pakai untuk menelaah buku-buku atau mengajar orang lain, berdiskusi
tentang agama. Walupun beliau masih muda -- waktu itu berusia 28 tahun --
karena taqwa dan kesucian amal beliau, para orang tua dari golongan Islam
maupun Hindu sama-sama menghormati beliau. Pada waktu itu beliau jarang
bepergian, justru suka menyendiri dan menyepi.
Para pendeta Kristen
pun pada waktu itu mulai menyebarkan agama mereka di Punjab. Sebagian besar
orang Islam tidak dapat menjawab serangan-serangan mereka. Tetapi ketika
berdiskusi dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., senantiasa saja orang-orang
Kristen mengalami kekalahan dan dari antara pendeta Kristen, mereka yang
mencintai kebenaran sangat hormat terhadap beliau . Seorang pendeta Kristen
bernama Mr. Butler M.A. yang bekerja di Scoth Mission di kota Sialkot, sering
bertukar pikiran dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., dan sangat tertarik pada
beliau. Tatkala Mr. Butler hendak kembali ke negerinya, ia datang ke kantor
kabupaten Sialkot untuk berjumpa dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Bupati
menanyakan, untuk apa tuan datang ke kantor kami? Dijawab oleh Mr. Butler,
bahwa ia datang hanya untuk berjumpa dengan Tuan Mirza Ghulam Ahmad saja.
kemudian ia terus pergi ke tempat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., dan setelah
berbincang-bincang beberapa saat, ia pun pulang.
Ada waktu itu, para
pendeta Kristen menganggap kemenangan pemerintah Inggris sebagai kemenangan
agama mereka, dan mereka sangat sombong serta karangan-karangan mereka ketika
itu menyatakan keinginan mereka untuk memasukkan semua orang Islam ke dalam
agama Kristen melalui tangan besi pemerintah. Mereka menggunaan kata-kata
yang sangat kotor dan keji terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad saw..
Beberapa orang Eropa yang ahli, pernah menyatakan bahwa kemungkinan timbulnya
kembali pemberontakan seperti tahun 1857 dapat muncul akibat tulisan-tulisan
yang sekeji itu dari kalangan Kristen. Lama sekali para pendeta Kristen
berpendirian seolah-olah merekalah yang berkuasa di India, dan bukan
pemerintah Inggris. Tetapi akhirnya mereka insyaf juga , bahwa pemeriintah
Inggris yang bekuasa di India dan pemerintahan Ratu Victoria tidak ingin
mengembangkan agama Kristen dengan tangan besi, dan sama sekali tidak ingin
mengganggu agama manapun.
Boleh dikatakan
bahwa pergeseran antara orang-orang Islam dan Kristen ketika itu sangat
hebat. Para pendeta Kristen suka marah kepada siapa saja yang berani
membantah keterangan-keterangan mereka. Meski pun Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
senantiasa menyalahkan keterangan-keterangan Kristen, tetapi pendeta Butler
M.A. sangat tertarik pada kesucian, ketaqwaan dan keikhlasan beliau . Sekali
pun Mr. Butler mengetahui bahwa ia tidak akan dapat menarik Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad. dan malahan ia sendiri yang akan tertarik oleh
keterangan-keterangan yang jitu dari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., namun ia
tidak mampu menjauhkan diri dari beliau . Mr. Butler benar-benar tertarik
pada kesucian dan ketaqwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dan ketika hendak
pulang ke negerinya, ia menyempatkan waktu untuk berjumpa dengan Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad. terlebih dahulu.
Behenti Bekerja
Hampir 4 tahun
lamanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. bekerja di Sialkot dengan memaksakan
diri. Namun akhirnya setelah mendapat izin dari sang ayah, beliau minta
berhenti dari pekerjaan beliau dan pulang dari Qadian.
Berdasarkan perintah
sang ayah, beliau bekerja harus mengikuti perkara-perkara pengadilan
tanah pusaka keluarga, namun hati beliau sama sekali tidak tertarik pada
hal-hal semacam itu. beliau sangat patuh dan tunduk terhadap perintah
orang-tua beliau. Beliau tidak mau membantah perintah sang ayah. padahal
beliau sendiri tidak senang terhadap pekerjaan itu. Seringkali setelah kalah
dalam suatu perkara beliau pulang dengan air muka yang berseri-seri, sehingga
orang-orang menganggap beliau telah menang dalam perkara tersebut.
Tatkala beliau menerangkan bahwa beliau kalah dalam perkara itu,
orang-orang bertanya, mengapa Tuan begitu gembira? Beliau as menjawab,
"Saya telah berupaya tetapi terjadi apa yang telah dikehendaki oleh
Allah Ta’ala, dan dengan selesainya perkara ini saya mendapat kelonggaran
waktu untuk mengingat Allah Ta’ala."
Itulah masa yang
sangat sukar dan ganjil bagi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Sang ayah
menghendaki beliau mengurus tanah-tanahnya atau mencari pekerjaan lain,
sedangkan kedua hal itu tidak beliau sukai. Oleh karenanya, sering
beliau dicela atau dimarahi, tetapi ketika ibu beliau masiih hidup,
sang ibu senantiasa melindungi beliau . Setelah ibu beliau wafat,
beliau sering menanggung kemarahan serta celaan dari kakak dan ayah
beliau, sebab mereka menganggap beliau tidak suka bekerja untuk penghidupan
hanya karena malas.
Ayah beliau sering
mengatakan dengan sedih, "Bagaimanakah anakku ini akan memperoleh
penghidupannya, dan juga sangat sedih kalau nanti untuk keperluan hidupnya ia
memerlukan pemberian kakaknya saja." Melihat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
siang malam hanya membaca buku saja, sang ayah sering gusar hati, dengan
menamakan beliau maulvi (kiai) sang ayah mengatakan: "Dari mana pula
maulvi yang satu ini telah muncul di rumah kita ?"
Walau pun begitu,
sang ayah sangat terkesan oleh kesucian dan ketakwaan beliau . Apalagi ketika
merasakan dan teringat akan kekalahan dalam usaha-usaha duniawinya. Sang ayah
gembira juga melihat beliau begitu giat dalam keagamaan dengan
mengatakan, "Inilah sebenarnya pekerjaan yang tengah dikerjakan oleh anakku
ini." Disebabkan ayah beliau seumur hidup berjuang hanya untuk dunia
saja, maka rasa penyesalan sering mempengaruhi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..
Tetapi hal itu sama sekali tidak menghalangi beliau dari tujuan yang
sebenarnya. Bahkan as. sering membacakan Alquran dan Hadis bagi ayah beliau.
Itulah suatu kondisi
yang amat menakjubkan, bapak dan anak asyik dalam suatu tujuan yang
berlainan, masing-masing hendak menarik yang lain kepada tujuannya. Sang
bapak ingin supaya anaknya menyetujui pendiriannya dan berjuang untuk
kehormatan serta kekayaan dunia, tetapi sang anak berkeinginan agar bapaknya
lepas dari cengkeraman dunia dan masuk dalam kecintaan Ilahi. Pendek kata,
keadaan hari-hari itu tidak dapat digambarkan dalam tulisan. Masing-masing
hanya dapat dibayangkan dalam sanubarinya.
Sekali lagi
beliau dimintakan untuk menjadi kepala pendidikan di Kesultanan
Kapurtala, tetapi itu pun beliau tolak dan lebih suka tnggal di rumah saja,
supaya sedapat mungkin menolong sang ayah yang amat sedih itu. Sebagaimana
telah dijelaskan, beliau memang tidak menyuka urusan-urusan tanah pusaka itu,
tetapi atas perintah ayah beliau dan guna menggembirakan serta menghibur sang
ayah yang sudah lanjut usia itu, beliau dengan giat menjalankan
perkara-perkara tersebut tanpa memperhatikan menang kalahnya.
Walau pun Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad. menjalankan perkara-perkara tu sekedar untuk membantu
ayah beliau, namun hati beliau tetap terkat dalam kecintaan Ilahi. Misi
beliau adalah : "Tangan bekerja, hati tertumpu pada Sang
Kekasih." Setiap selesai urusan perkara-perkara itu beliau
langsung kembali tenggelam dalam ibadah dan zikir Ilahi. Selama bepergian
untuk perkara-perkara tersebut, tidak ada satu shalat pun yang tidak beliau
kerjakan pada waktunya. Bahkan ketika pengadilan sedang berlangsung, shalat
tetap tidak beliau lewatkan dari waktunya.
Sekali peristiwa,
beliau pergi ke pengadilan untuk suatu urusan perkara yang sangat
penting dan dapat mempengaruhi perkara-perkara lainnya. Waktu itu hakim
sedang memeriksa perkara lain, maka perkara beliau lambat diperiksa.
Sementara menunggu giliran perkara beliau, waktu shalat sudah mulai sempit,
maka setelah berwudhu beliau langsung shalat di bawah pohon, dengan
menyerahkan perkara itu kepada Allah Ta’ala. Ketika beliau sedang shalat,
hakim memanggil nama beliau, tetapi beliau dengan tenang terus saja
mengerjakan shalat beliau dan sama sekali tidak peduli pada hal-hal lain.
Menurut peraturan pengadilan, dalam suatu perkara kalau satu pihak tidak
hadir bila dipanggil, maka perkara itu akan diputuskan dengan memenangkan
pihak yang lain. Maka setelah shalat, beliau menganggap tentu perkara
beliau telah dikalahkan, dan beliau menuju ke ruang pengadilan untuk
mendapatkan kabar tentang keputusan perkara tersebut. Kepala pengadilan disitu
adalah seorang Inggris. Setelah memeriksa berkas-berkas perkara tersebut,
kepala pengadilan itu ternyata telah memutuskan perkara tersebut dengan
kemenangan di pihak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..
Demikianlah Allah
Ta’ala menolong beliau. Dapat dikatakan bahwa beliau menjalankan tugas
itu seperti dipaksakan mengerjakan hal-hal yang tidak beliau sukai. Padahal
perkara-perkara itu akan bermanfaat bagi di beliau . Sebab dengan
terpeliharanya harta pusaka sang ayah, berarti terpelihara pula harta pusaka
bagi diri beliau sendiri, karena beliau akan mewarisinya. meskipun
beliau cukup cerdas dan cerdik, beliau tetap tidak suka perkara-perkara
demikian. Hal itu membuktikan bahwa beliau sangat tidak menyukai
keduniawian dan hanya bertujuan kepada Allah Ta’ala semata.
Rajin Bekerja
Sekali pun
beliau tidak menyukai keduniaan, beliau sama sekali bukan orang yang
malas. Justru beliau sangat rajin dan suka bekerja keras. Beliau suka menyepi
dan menyendiri, tetapi sedikitpun tidak berarti menjauhkan diri dari kerja
keras. Kadangkala bila bepergian, Khadim disuruh menunggang kuda ke depan
lebih dulu dan beliau sendiri jalan kaki sampai lebih dari 20 pal hingga ke
tujuan. Jarang sekali beliau memakai kendaraan, bahkan sering pergi dengan
berjalan kaki saja. Sampai akhir hayat pun beliau biasa berjalan kaki
demikian. Walau usia telah lebih 70 tahun dan beliau sering sakit keras,
namun hampir tiap hari beliau berjalan kaki empat sampai lima pal. Bahkan
kadang-kadang sampai tujuh pal. Sebelum beliau terlalu tua, kadang-kadang sebelum
Subuh beliau berangkat dari rumah ddi Qadian untuk berjalan kaki dan
setelah sampai di kampung Wadulah yang terletak lima setengah pal dari Qadian
barulah masuk waktu untuk shalat Subuh.
Kewafatan Sang Ayah
& Ilham Pertama
Pada tahun 1876 Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad berusia kurang lebih 40 tahun ketika ayah beliau sakit,
dan penyakitnya tidaklah begitu berbahaya. Tetapi Allah Ta’ala menurunkan
ilham berikut ini kepada beliau as:
Persumpahan demi Langit yang merupakan sumber takdir, dan demi peristiwa yang
akan terjadi setelah tenggelamnya matahari pada hari in3 i.
Beriringan dengan
itu kepada beliau diberikan pengertian bahwa ilham ini mengabarkan tentang
kewafatan ayah beliau yang akan terjadi setelah Maghrib. Sebelum ilham
ini, sudah lama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sering mendapat ru'ya shalihah
(mimpi yang benar) yang telah sempurna dengan jelas pada waktunya, dan
disaksikan pula oleh orang-orang Sikh dan Hindu yang sebagian masih hidup
sampai sekarang. Tetapi sebagai ilham, inilah ilham yang pertama beliau
terima , dan dengan perantaraan ilham ini Allah Ta’ala dengan cinta-Nya
seolah-olah menyatakan behwa : ayahmu di dunia ini akan wafat sekarang, dan
mulai hari ini Aku dari Langit akan menjadi ayah bagimu.
Demikianlah ilham
pertama yang diterima Hz. Masih Mau'ud as. yang mengabarkan tentang kewafatan
sang ayah. Sudah wajar khabar ini membuat hati beliau sedih, bahkan kesedihan
itu ditambah dengan kekhawatiran tentang siapa yang akan mengurus penghidupan
beliau selanjutnya? Oleh sebab itu Allah Ta’ala memberikan ilham kedua
kepada beliau untuk menenteramkan hati beliau. Baiklah, kejadian itu
saya terangkan dalam kata-kata Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sendiri:
"Ketika saya diberi khabar oleh-Nya bahwa ayahanda akan wafat setelah
matahari terbenam, sebagai manusia hati saya sangat sedih dan gelisah.
Sebagian besar penghidupan kami bergantung pada ayahanda. Sebab beliau biasa
mendapat pensiun dan hadiah yang agak besar dari pemerintah, yang tentu akan
dihentikan setelah beliau wafat. Maka timbullah di dalam pikiran, apa yang
akan terjadi setelah ayahanda wafat? Hati merasa khawatir kalau-kalau dalam
hari-hari mendatang kami akan menderita kesusahan dan kesukaran. Semua
pikiran ini secepat kilat melewati diri saya, tiba-tiba saya rasakan seperti
tidur dan menerima ilham yang kedua ini :
Apakah Allah tidak
cukup bagi hamba- Nya?
Dari ilham ini hati saya menjadi teguh, bagai luka parah yang tiba-tiba
menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah mendapat ilham
'Alaysallaahu bikaafin 'abdahu' saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan
menolong saya. Kemudian saya memanggil seorang warga Hindu penduduk Qadian,
bernama Malawa Mal yang hingga kini masih hidup, dan menceritakan semua
kejadian itu kepadanya. Lalu saya serahkan tulisan ilham itu kepadanya dan
menyuruhnya pergi ke Amritsar minta tolong Hakim Maulvi Muhammadd Syarif
Kalanauri untuk mengukirkan ilham tersebut pada sebuah mata cincin berupa
stempel (cap). Untuk menyelesaikan urusan ini saya sengaja memilih orang
Hindu supaya ia menjadi saksi tentang khabar ghaib itu. Maka cincin cap itu
diselesaikan oleh Maulvi tersebut dengan harga 5 rupis, kemudian oleh Malawa
Mal diserahkan pada saya."
Cincin itu sampai
sekarang ada pada saya (Khalifatul Masih II, penulis buku ini-pen.). Pendek
kata, pada hari kewafatan beliau., beberapa jam sebelum Maghrib Allah Ta’ala
telah mengabarkan tentang kewafatan ayah beliau. Sesudah itu Allah Ta’ala
menenteramkan dan membesarkan hati beliau dengan menerangkan bahwa beliau
tidak perlu khawatir, sebab Allah Ta’ala lah yang akan mengatur segala urusan
beliau. Pada hari beliau mendapat ilham-iham itu, ayah beliau pun wafat
setelah Maghrib, dan mulailah suatu era baru dalam kehidupan beliau
Harta pusaka ayah
beliau berupa rumah-rumah, toko dan tanah-tanah terletak di kota Batala,
Amritsar, Gurdaspur dan Qadian. Beliau punya saudara seorang lagi, sehingga
hanya dua orang saja yang akan mewarisi harta pusaka ayah beliau. Yakni
beliau berhak mendapat setengah harta pusaka itu yang akan mencukupi
keperluan hidup beliau . Tetapi beliau tidak minta harta benda itu dibagi,
melainkan apa saja yang diberi oleh kakak beliau, beliau terima dengan rasa
syukur dan senang.
Demikianlah Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad. menganggap sang kakak sebagai pengganti ayah beliau.
Tetapi berhubung sang kakak dinas dan tinggal di Gurdaspur, waktu itu
beliau selalu mengalami kesulitan yang berlanjut sampai kewafatan sang
kakak. Dapat dikatakan beliau mendapat cobaan yang berat dalam
tahun-tahun itu. Namun beliau tetap sabar dan teguh menghadapi cobaan
tersebut. Hal ini membuktikan bahwa beliau sangat mulia dan tinggi
dalam kerohaniannya.
Walau pun
beliau mampunyai hak sama dalam harta pusaka itu, namun melihat sang
kakak sangat cenderung pada keduniaan, beliau tidak meminta bagian
sendiri dan hanya mencukupkan diri dengan pakaian dan makanan saja. Sang
kakak pun, karena cinta dan hormat, menurut perasaannya ingin mencukupi
keperluan-keperluan beliau . Tetapi sang kakak lebih mencintai keduniaan,
sedangkan beliau sangat tidak menyukai keduniaan. Oleh sebab itu sang
kakak menganggap beliau pemalas dan tidak mengenal tuntutan zaman. Malah sang
kakak sering mengungkapkan kekesalannya, karena beliau tidak mau
memperhatikan urusan-urusan keduniaan.
Sekali peristiwa
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. meminta sedikit uang untuk berlangganan sebuah
surat kabar, namun meskipun menguasai harta pusaka beliau sang kakak
menolak permintaan itu dengan mengatakannya sebagai pemborosan untuk orang
yang tidak mau bekerja dan hanya duduk-duduk saja membaca surat kabar serta
buku-buku.
Demikianlah sang
kakak tenggelam dalam keduniaan, sehingga tidak mau tahu akan
keperluan-keperluan beliau serta tidak mau memberikan perhatian guna
memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keadaan itu sangat menyusahkan beliau
, tetapi hal yang lebih menyusahkan dari itu adalah, sang kakak jarang
tinggal di Qadian. Maka pegawai dan pengurus-pengurus hartanyapun mendapat
kesempatan untuk lebih menyusahkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..
Mujahidah
Dalam masa itu Allah
Ta’ala menerangkan kepada beliau bahwa untuk mendapatkan nikmat-nikmat
Ilahi perlu melakukan mujahidah juga. Yakni beliau harus berpuasa.
Menurut perintah Ilahi ini beliau berpuasa berturut-turut 6 bulan
lamanya. Acapkali makanan yang dikirim untuk beliau telah beliau bagikan
kepada fakir miskin. Setelah berbuka puasa, bila beliau meminta makanan
dari rumah, sering ditolak. Karena itu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
mencukupkan hanya dengan sedikit air, atau barang lain semacam itu, dan esok
harinya berpuasa terus tanpa makan sahur lebih dahulu.
Pendek kata, pada
waktu itu beliau dalam keadaaan mujahiidah yang tinggi, dan beliau
menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Pada waktu yang amat susah
sekali pun beliau tidak menunjukkan-- secara langsung ataupun dengan
isyarat -- untuk memperoleh bagian dari harta pusaka beliau. Bukan hanya
selama hari-hari puasa itu saja, bahkan pada waktu-waktu lainnya pun Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad. suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin, dan
untuk diri sendiri beliau hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang
tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan
yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Maka
banyak para fakir miskin suka tinggal dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..
Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan
kepentingan sendiri -- walau pun beliau sendiri berada dalam kesusahan.
Sedangkan kakak beliau hanya bergaul dan bersahabat dengan orang-orang kaya
saja.
Tampil di Hadapan
Umum
Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad. mulai mengkhidmati agama Islam dengan mengarang buku yang berisi
keterangan-keterangan untuk melawan agama Kristen dan Hindu Ariya.
Karangan-karangan beliau diterbitkan juga di surat-surat kabar. Karena
karangan-karangan inilah nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. populer di
masyarakat umum, meski pun beliau sendiri jarang keluar dari ruangan yang
kecil dan sunyi itu. Malah para tamu sering beliau terima di dalam mesjid,
atau suka berdiam di rumah saja. Pada waktu tu nama Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad. telah mulai dikenal dan tersiar, tetapi beliau sendiri tidak tampil di
hadapan umum, dan tetap dalam suasana yang sunyi dan terpisah itu.
Ketika Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad. tengah menjalankan mujahidah tersebut, Allah Ta’ala sering
memberi ilham kepada beliau yang mengandung kabar-kabar ghaib, dan menjadi
sempurna pada waktunya. Hal-hal ini menambah keimanan serta keyakinan beliau
maupun rekan-rekan beliau yang diantaranya terdapat juga orang-orang Sikh
serta Hindu. Mereka amat heran dan takjub melihat kejadian-kejadian itu.
Mula-mula
beliau memuat karangan dalam surat-surat kabar saja. Tetapi ketika
beliau melihat bahwa musuh Islam menyerang dengan lebih hebat dan orang-orang
Islam tidak mampu menjawab serangan-serangan itu, hingga ghairat Islam
bergolak di dada beliau Maka berdasarkan ilham dan wahyu Ilahi, beliau
bangkit untuk mengarang sebuah buku yang menerangkan perkara-perkara tentang
kebenaran agama Islam, yang betul-betul tidak dapat dijawab oleh para musuh
Islam untuk selamanya. Tiap-tiap orang Islam dapat mempergunakan
keterangan-keterangan itu untuk menjawab segala serangan terhadap Islam.
Dengan kemauan dan tujuan itulah beliau mulai mengarang buku yang
terkenal dengan nama Barahiyn Ahmadiyah, yang tidak ada bandingannya dari
karangan-karangan orang lain.
Ketika sebagian
karangan telah selesai, beliau menganjurkan agar dicetak, dan atas
pertolongan orang-orang yang sangat gemar dan memuji karangan-karangan
beliau, dapatlah tercetak bagian pertama berupa suatu pengumuman dan seruan.
Bagian yang pertama itu saja telah menggoncangkan dan menggemparkan seluruh
negeri. Walau pun bagian pertama itu hanya berupa pengumuman dan seruan,
tetapi di dalamnya diterangkan juga hal-hal tertentu untuk membuktikan
kebenaran Islam, yang amat menarik dan mendapat pujian dari para pembaca buku
tersebut.
Dalam pengumuman itu
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mengemukakan suatu syarat, bahwa
keindahan-keindahan Islam yang akan beliau terangkan, jika hal demikian dapat
dipaparkan oleh seorang pengikut suatu agama lain dalam agamanya, atau
setengahnya saja, atau malah seperempatnya saja sekali pun, maka beliau
akan menghadiahkan seluruh harta pusaka beliau yang berharga 10.000 rupis
kepada orang itu. Inilah pertama kali beliau menggunakan harta pusaka
beliau dengan menetapkannya sebagai hadiah demi memaparkan
keindahan-keindahan Islam, supaya para pengikut agama lain memberanikan diri
tampil melawan Islam, yang akhirnya akan membuktikan keunggulan serta
kemenangan Islam.
Bagian pertama buku
ini dicetak pada tahun 1880, bagian kedua pada tahun 1881, bagian ketiga
tahun 1880 dan bagian keempat pada tahun 1884. Sebelum selesai penulisan
seluruh buku ini, Allah Ta’ala telah memberi ilham bahwa beliau akan membela
dan menyiarkan Islam dengan cara yang lain lagi. Tetapi apa yang telah
ditulis dalam buku tersebut pun cukuplah untuk membukakan mata dunia. Setelah
tersiarnya buku itu, lawan mau pun kawan memuji serta yakin akan kecakapan
beliau Tidak seorang pun musuh-musuh Islam dapat menyanggah buku itu.
Orang-orang Islam sangat bergembira hati dan mulai menganggap beliau sebagai
mujaddid, padahal waktu itu beliau belum menda'wakan apa-apa. Para alim
ulama pun mengaku kepandaian beliau.
Mlv. Muhammad
Hussein Batalwi yang memimpin golongan Ahli-hadiis dan Wahabi -- pemerintah
pun waktu itu menghormatinya -- menulis komentar panjang lebar yang memuji
buku Barahiyn Ahmadiyah, dan menerangkan bahwa dalam 13 abad sebelumnya,
tidak pernah terbit sebuah buku yang membela Islam sedemikian rupa seperti
buku tersebut.
Di dalam buku itu
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. juga mencantumkan beberapa ilham yang beliau
terima, sebagian diantaranya kami paparkan disini supaya dapat terlihat
bukti-bukti kebenarannya :
Seorang nabi telah
datang ke dunia, namun dunia tidak menerimanya4
Akan datang kepadamu hadiah-hadiah dari tempat-tempat yang jauh, dan
orang-orang banyak akan datang dari tempat-tempat yang jauh5.
Raja-raja akan
mencari berkat dari pakaian-pakaianmu6
Ilham-ilham ini
telah dicetak dalam Barahiyn Ahmadiyah pada tahun 1884, ketika beliau
masih hidup dalam suasana yang sepi dan terpisah dari dunia ramai. Tetapi
setelah terbitnya buku itu, nama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mulai tersiar ke
seluruh India. Banyak pula yang menaruh harapan bahwa pengarang Barahiyn
Ahmadiyah akan membela Islam menjawab segala serangan serta tuduhan yang
dilontarkan kepada Islam. Dugaan mereka benar, tetapi Allah Ta’ala
mengkehendaki agar hal itu sempurna dengan cara lain.
Kejadian-kejadian
berikutnya menyatakan bahwa mereka yang tadinya begitu memuliakan serta
menghormati beliau ternyata merekalah yang menjadi musuh keras beliau,
serta berusaha menjatuhkan beliau Akan tetapi penerimaan diri beliau
capai tidaklah bergantung pada pertolongan manusia, melainkan Allah Ta’ala semata
lah yang dengan serangan-serangan hebat akan memastikan dan membuktikan hal
itu.
Kewafatan Sang Kakak
Pada tahun 1884
kakak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ghulum Qadir yang tidak mempunyai
keturunan itu telah wafat. dan beliau pula yang menjadi warisnya.
Tetapi untuk menyenangkan hati janda sang kakak, beliau tidak mengambil harta
warisnya. Bahkan atas permintaan janda itu, separuh harta waris beliau
dipindahkan atas nama Mirza Sultan Ahmad yang telah diangkat sebagai anak
pungut oleh janda tersebut.
Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad. menyatakan dengan jelas, bahwa menurut Islam tidak ada anak angkat.
Tetapi untuk menyenangkan dan menolong janda Mirza Ghulam Qadir itu,
beliau dengan senang hati telah menyerahkan separuh harta pusakanya.
Bagian yang separuh lagi pun tidak segera beliau ambil dan lama dipegang oleh
sanak keluarga beliau
Satu setengah tahun setelah
kewafatan kakak beliau, berdasakan ilham Ilahi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
melaksanakan pernikahan kedua di Delhi. [bersambung]
|
Syarat-syarat Bai'at masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah
Orang yang bai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa :
1. Di
masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi
syirik.
2. Akan
senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan
birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat,
mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa
nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan
senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah
Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa
mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia
Rasulullah s.a.w dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari
dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya
dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh
kecintaan.
4. Tidak
akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap
makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa
nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan
tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah ataupun
senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas
keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan
dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah
Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan
berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar
akan menjunjung tinggi perintah Al-Qur’an Suci di atas dirinya. Firman Allah
dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan
takabur, sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut,
berbudi pekerti yang halus, dan sopan-santun.
8. Akan
menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada
jiwanya, hatanya, anak-ananknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan
selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh
mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat
yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan
mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini "Imam Mahdi dan Al-Masih
Al-Mau’ud" semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal
makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga
mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi,
baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.
Diterjemahkan dari "ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH"
|
Makam NABI ISA as. di Kashmir
Makam yang diduga
telah dibangun oleh Thomas di atas jasad Yesus itu berlokasi di distrik
Khanyar, di pusat ibu kota Kashmir, Srinagar. Di jalan sebelah makam itu,
terpampang sebuah papan-nama, dengan tulisan putih menonjol yang sudah tua:
“Rozabal”, yakni kependekan dari “Rauza Bal”.
“Rauza” adalah
kata-kata yang berarti “Makam Nabi”, sebagaimana berlainan dengan Wali itu
(yang disebut “Ziarat”). Bangunan itu persegi empat dan mempunyai satu
ruangan mungil yang terpadu padanya. Di belakang bangunan itu terdapat
pemakaman kaum Muslimin, dimana makam-makam tersebut, sesuai dengan kebiasaan
kaum Muslimin, membujur ke Utara-Selatan.
Kalau berjalan terus
masuk ke Rozabal kemudian masuk ke dalam ruangan (karena tempat itu disucikan
oleh orang-orang Hindu dan Muslim, maka orang harus membuka alas kaki) orang
pertamakali akan memasuki serambi. Di sekeliling ini ada kamar dalam, yang
bila orang memasukinya harus melalui sebelah kiri dan sedikit membuka papan
kayu yang ditulis (sebagai pengganti papan yang asli yang telah hilang),
judul tulisan itu tertera: “Ziarat Yuza Asaf Khanyar”. “Makam” (ini menarik
hati bahwa kata-kata itu di sini digunakan kata “ziarat”, sebagaimana telah kita
lihat di muka, yakni yang berkenaan dengan orang-orang suci) Yuz Asaf,
Khanyar”. Sedangkan sisa tulisan kaligrafi lainnya menunjukkan, bahwa Yuz
Asaf sampai di Lembah Kashmir beberapa abad yang telah silam dan
mempersembahkan kehidupan untuk mengajarkan kebenaran. Papan yang ada saat
ini adalah persembahan Departemen Archeology (Kepurbakalaan) dari pemerintah
Kashmir.
Di atas lantai
serambi dalam terdapat dua batu maesan (batu kubur), keduanya ditutup dengan
rangka-rangka kayu berukir. Salah satu batu yang terbesar adalah makam Yesus
dan terletak agak ke muka dari serambi itu, sedangkan yang lebih kecil
terletak dekat pintu masuk, ialah seorang Wali Muslim dari abad kelimabelas,
Sayyid Nasiruddin. Ketaatannya kepada Yesus tiada terhingga, dan menurut kehendaknya
supaya dimakamkan di dekat makam Yesus.
Dua batu maesan
tersebut membujur ke Utara-Selatan, menurut kebiasaan kaum Muslimin, tetapi
makam Yesus yang sebenarnya, yang terletak di bawah tanah, membujur ke
Timur-Barat, sesuai dengan cara bangsa Yahudi. Waktu dahulu ruangan makam di
bawah tanah tersebut dapat dicapai dengan menapaki satu tangga dari jalan
sebelah barat bangunan, tetapi jalan masuk itu sekarang ditutup kecuali satu
celah kecil.
Di lantai sudut
sebelah timur-laut dari serambi utama itu diletakkan satu balok batu yang
biasa digunakan untuk tempat lilin. Oleh sebab itu ia selalu tertutup oleh
cairan lilin, tetapi ketika pada suatu hari, Professor Hassnain mulai
menguliti cairan lilin tersebut, beliau mendapati patung salib yang mengeras,
kemudian satu tasbih, dan setelah membersihkan permukaan batu tersebut lebih
sempurna lagi, didapati sesuatu yang membekas dari telapak kaki yang nampak
bekas-bekas luka penyaliban.
Sewaktu kami
mengunjungi makam Yesus itu, kami dapat membuktikan, bahwa “cetakan telapak
kaki” (footprints) tersebut tiada lain adalah ukiran pahat yang dikerjakan
oleh seseorang zaman dahulu, yakni seorang ahli seni pahat yang tak dikenal.
Demikianlah faktanya, bahwa ukiran pahat yang menggambarkan telapak kaki
serta menonjolkan luka-luka penyaliban itu menunjukkan, bahwa siapa saja yang
menyaksikan hal itu akan tahu bahwa Yuza Asaf dan Yesus orangnya itu-itu
juga, dan ini menjadi saksi bukti.
Selama kunjungan
kami ke Rozabal, kami selalu ditemani oleh seorang penjaga (kuncen), yang
bertugas menjadi juru kunci. Berikut ini wawancara yang kami dapati
bersamanya sewaktu kunjungan itu. (T = tanya, dan J = jawab):
T. Kenapa anda
menjadi penjaga Rozabal?
J. Karena tradisi
keluarga. Ayah saya, dan kakek saya dan ayah kakek saya..
T. Tapi kan anda
bukan keluarga Basharat Saleem?
J. Ya, saya seorang
keluarga jauh dari Basharat Saleem. (Saya harus banyak diam mengenai hal ini,
karena Basharat Saleem bersikeras mengelak terhadap soal ini. Beliau hanya
mengatakan bahwa penjaga makam itu semata-mata hanya seorang pegawai saja).
T. Apakah anda yakin
bahwa makam ini makam Yesus?
J. Ini makamnya Yuza
Asaf.
T. Dapatkah anda
memberitahukan kepada saya, makam siapakah yang kedua dan lebih kecil itu?
J. Yuza Asaf seorang
yang lebih mulia, maka baginya tidak cukup hanya diberikan satu maesan (batu
kubur): beliau memiliki dua. (Orang lain di Srinagar mencoba meyakinkan saya
mengenai batu kubur yang kedua itu, bahwa dia adalah seorang utusan dari
Mesir yang dikirim ke Kashmir di zaman dahulu, kata mereka. Kedua versi itu
salah, jawaban-jawaban si penjaga makam itu adalah ciri khas orang yang amat
sederhana, yang hanya bertanggungjawab langsung memelihara bangunan itu, yang
benar-benar tidak tahu apa-apa perihal tempat yang amat bersejarah itu).
T. Apa agama anda?
J. Saya Muslim.
T. Oleh agama-agama
apa saja bangunan ini disucikan?
J. Bagi orang-orang
Muslim, Kristen, Yahudi dan Hindu. Katanya, bahwa sejak zaman dahulu kala
banyak sekali orang dari berbagai agama telah datang untuk menyampaikan rasa
hormat ke tempat ini. Tandatangantandatangan di buku tamu para pengunjung
Rozabal ini dapat menjadi saksi baginya.
T. Dapatkah anda
mengingat-ingat, siapa sajakah orang penting yang pernah berziarah ke tempat
ini?
J. Banyak sekali
orang terpelajar dan Professor sampai ke sini, tetapi bagi saya khususnya,
orang-orang penting yang pernah menziarahi Rozabal ini adalah paman kami,
Perdana Menteri Indira Ghandi. Banyak juga para bintang film sampai ke sini.
T. Apakah anda
ingat, adakah beberapa pendeta Kristen yang sampai ke sini?
J. Mungkin sekali
telah banyak yang datang, karena di sini banyak sekali berbagai sekolah
Kristen, tetapi saya tidak ingat orang-orang itu.
Juru bahasa selama
kunjungan ini adalah putera Professor Hassnain, Mr. Fida, yang sangat banyak
membantu kami selama kami tinggal di Kashmir.
Kesimpulannya, patut
dicatat, bahwa orang-orang dari Kashmir yang berkunjung ke makam tersebut dan
meninggalkan sesajen di sana, mereka tahu, bahwa itu adalah makamnya Hazrat
Yuz Asaf atau Nabi Sahib (Sahib adalah bahasa Urdu yang artinya Bapak atau
Tuan.- Penj.), Shahzada Nabi (“Pangeran Nabi”) atau Isa Sahib (yakni Nabi
‘Isa atau Yesus).
DALIL TENTANG
WAFATNYA NABI ISA
Kepercayaan tentang
masih hidupnya Nabi Isa as di langit, merupakan salah satu bahaya besar bagi
agama Islam.
Kaum Muslimin yang
percaya bahwa Nabi Isa as masih hidup di langit dengan jasad kasarnya dengan
tidak sadar mereka telah mendukung dan membantu kelangsungan hidup agama
Kristen serta lebih memuliakan Nabi Isa as dari pada Nabi Besar Muhammad s
a.w. sendiri.
Kaum Muslimin yang
beranggapan bahwa Nabi Isa as masih hidup di langit dengan badan kasarnya,
mereka telah masuk kedalam golongan orang-orang yang syirk. Tentang syirk
Allah swt berfirman: "Innasy syirka lazulmun azim." Sesungguhnya
syirk itu zulman yang besar.
Sehubungan dengan
masalah wafatnya Nabi Isa as ini, bahwa maju dan hidupnya agama Islam banyak
bergantung kepada wafatnya Nabi Isa as
Dalil Pertama
Allah swt berfirman
dalam surah Al-Maidah ayat 117:
مَا قُلْتُ لَهُمْ
إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ
عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ
الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: "..
dan aku sementara menjadi penjaga atas mereka selama aku di antara mereka,
akan tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, maka Engkaulah yang menjadi
Pengawas mereka dan Engkaulah Saksi atas segala sesuatu."
Keterangan: Dalam
ayat ini Nabi Isa as menjawab kepada Allah swt. bahwa beliau selalu berusaha
agar pengikut-pengikutnya jangan sampai menyembah tuhan lain kecuali Allah
swt. Seterusnya - dengan jelas - beliau bersabda: "Tetapi setelah Engkau
mewafatkan aku, aku tidak tahu apa-apa yang mereka
kerjakan."
Perkataan tawaffa
dalam ayat itu artinya mati (kematian) sebagaimana kita baca dalam surah Ali
Imran ayat 193: Artinya: ".. dan wafatkanlah kami dalam golongan
orang-orang yang saleh."
Dalil Kedua
Allah swt berfirman
dalam surah Ali Imran ayat 55:
Artinya: Ingatlah
ketika Allah berfirman "Hai Isa,
sesungguhnya Aku
akan mematikan engkau secara biasa dan akan meninggikan derajat engkau
disisi-Ku dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar
dan akan menjadikan orang-orang yang mengikut engkau diatas orang-orang yang
ingkar hingga Hari Kiamat."
Keterangan: Di dalam
Hadits Bukhari di bawah ayat itu Ditulis didapati keterangan, bahwa Hadrat
Ibnu Abbas r.a. berkata: mutawafika artinya mematikan kamu.
Dan tentang arti
kata: (rofiuka) di dalam Hadits Kanzuh Ummal jilid II hal. 53 terdapat
keterangan sebagai
berikut:
Artinya: Apabila
seorang abdi merendahkan hatinya, Allah meninggikan derajatnya sampai langit
ketujuh.
Dalil Ketiga
Artinya: Al Masih
ibnu Maryam tidak lain melainkan seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu
Rasul-Rasul
sebelumnya. Dan
ibunya adalah seorang yang amat benar. Mereka kedua-duanya biasa makan
makanan.
Dalam surah
Al-Anbiya ayat 8 Allah swt berfirman lagi:
Artinya: "Dan
tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan dan tidak
(pula) mereka itu orang-orang yang kekal."
Keterangan: Nabi Isa
as pun tidak terkecuali waktu beliau hidup di dunia ini harus makan Tetapi
sekarang beliau tidak makan, artinya sudah wafat.
Dalil Keempat
Allah swt berfirman
dalam surah Ali Imran ayat 144.
Artinya: "Dan
Muhammad tiada lain melainkan seorang Rasul, sesungguhnya telah berlalu
Rasul-Rasul sebelumnya."
Keterangan: Di dalam
ayat lain dalam Quran Karim Allah swt berfirman: (Surah Al Baqarah ayat 141).
Artinya:
"Itulah suatu ummat yang telah berlalu sesudah habis masanya."
Dalam kamus bahasa
Arab "Lisanul Arab," terdapat tulisan (keterangan) yang bunyinya:
Artinya: Ia berlalu,
apabila sudah mati.
Maksud ayat itu
jelas sekali, bahwa semua Rasul yang datang sebelum Muhammad saw semuanya
sudah wafat.
Dalil Kelima
Allah swt herfirman
dalam surah Al A'raaf ayat 25:
Artinya: "Di
situlah kamu akan hidup dan di situlah kamu akan mati dan dari padanyalah
kamu dikeluarkan. "
Keterangan: Jadi
menurut hukum (peraturan) Allah swt sebagaimana tersebut dalam ayat di atas,
manusia hidup dan mati di atas dunia inilah. Manusia tidak bisa hidup di luar
bumi ini tanpa hawa (udara) dari bumi. Sebab itu Nabi Isa as pun sudah wafat.
Dalil Keenam
Allah swt berfirman
dalam surah Maryam ayat 31:
Artinya: "Dan
Dia menjadikan aku (Isa as) seorang yang diberkati dimana saja aku berada dan
Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan menunaikan zakat selama
aku hidup. "
Keterangan: Allah
swt memerintahkan kepada Nabi Isa as agar selama beliau (Nabi Isa as) hidup
harus mendirikan sholat dan membayar zakat. Tetapi pada dewasa ini beliau
tidak membayar zakat lagi, artinya beliau sudah wafat.
Dalil Ketujuh
Allah swt berfirman
dalam surah Anbiya ayat 34:
Artinya: "Kami
tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu. Maka
karena itu apakah jikalau kamu mati mereka akan kekal."
Keterangan: Menurut
ayat ini, apabila Nabi Muhammad saw wafat, tidak mungkin bagi orang-orang
lain, walaupun Nabi Isa as dapat hidup untuk selama-lamanya.
Dalil Kedelapan
Di dalam kitab
Hadits Kanzul Ummal jilid IV hal. 160, Hadhrat Fatimah r.a. menerangkan bahwa
Rasulullah saw
bersabda:
“Sesungguhnya Isa
ibnu Maryam usianya seratus dua puluh tahun”.
Dalil Kesembilan
Rasulullahh saw
bersabda (lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid II hal. 100):
”Jika Musa as dan
Isa as hidup, mereka harus ikut aku.”
Soal: Banyak orang
yang salah menafsirkan surah An-Nisa ayat 157-158. Menurut mereka, Nabi Isa
as tidak disalib, tetapi diangkat oleh Allah swt ke langit. Yang disalib itu
adalah orang lain. (Oleh Allah swt diganti dengan orang lain yang diserupakan
dengan Nabi Isa as). Ayatnya berbunyi:
Artinya: “Padahal
mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mematikannya di atas salib akan
tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti yang mati di atas salib. Malahan
Allah swt telah meninggikan derajatnya kepada-Nya”.
Jawab &
Keterangan: perkataan sholabuhu dalam ayat tersebut, bukan berarti bahwa
orang-orang Yahudi tidak menaruh Nabi Isa as di atas salib, tetapi yang
sebenarnya - mereka tidak menyalibkannya sampai mati.
Didalam kamus Al
Munjid kita baca:
Artinya: "Ia
menyalib tulang-tulang artinya mengeluarkan sumsumnya." Sedangkan Nabi
Isa as tidak dipatahkan tulang-tulangnya.
Adapun maksud
perkataan syubha bukan berarti bahwa Nabi Isa as disamarkan (diganti) dengan
orang lain, tetapi beliau disamarkan seolah-olah telah mati di atas kayu
salib. Yang menajdi pokok pembicaraan adalah nabi Isa [bukan orang lain],
jadi mestinya Nabi Isa yang disamarkan [seperti mati], bukan orang lain yang
disamarkan seperti Nabi Isa.
Tentang perkataan
anjalna sudah dijelaskan dalam dalil kedua.
Soal: Banyak orang
yang berkata, bahwa menurut Hadits Bukhari: Nabi Isa as akan turun dari
langit.
Jawab pertama: Di
dalam hadits tersebut tidak terdapat perkataan langit.
Jawab kedua:
Perkataan anjalna artinya bukan turun dari langit. Contohnya yang lain kita
baca dalam surah Al-Hadid ayat 25:
Artinya: "Dan
Kami turunkan besi."
Semua manusia tahu dari
mana datangnya besi.
Jawab ketiga: Maksud
perkataan "Isa Ibnu Maryam," tidak berarti bahwa Isa Ibnu Maryam
yang dulu yang akan datang (sebab Isa Ibnu Maryam sudah wafat), tetapi yang
akan datang itu orang lain yang sifat-sifatnya seperti Nabi Isa as,
sebagaimana Nabi Yahya as datang dalam sifat-sifat Nabi Ilyasa as (Matheus
Bab 17 ayat 12-13).
Semoga Allah swt
memberi taufik dan hidayat kepada semua kaum Muslimin agar mereka mengerti
dan meyakini tentang wafatnya Nabi Isa as sebagaimana dijelaskan oleh
dalil-dalil tersebut di atas, sebab keyakinan atau kepercayaan tentang
wafatnya Nabi Isa as itu mengandung arti sukses dan kehormatan bagi agama
Islam dan Rasulullah saw. [retyping dari tulisan Tuan Mahmud Ahmad Cheema,
Sy]
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar